Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

20 Januari, 2023

Opini - Celetukan

Biasa aja lah, hidup ini cuma persinggahan dari masalah yang satu menuju masalah yang lain. Terus, kapan istirahatnya? Nanti kalo lo udah di surga. Emang lo bisa masuk surga? Ya bisa, insya Allah dengan rahmat Allah. Gimana caranya? Ya gawe lah! I'mal shalihan! Capek-capek dulu, masalah-masalah dulu, baru bisa berenang ke tepian.

Bumi itu bulat kan, inget! Muter terus. Dan biasanya sama polanya, kadang di atas seringnya di bawah. Tapi masalahnya ya cuma itu-itu aja kok. Kesehatan jasmani dan rohani, ekonomi, hubungan sama orang lain, karier, pendidikan, dsb. Udah.

Ngga usah dipikir dalem dalem makannya bang, insyaAllah nanti juga kelar sendiri. Banyakin aja usahanya, capek-capeknya, aktif ambil peluang. Manfaatin waktu yang ga bakal terulang. Jangan kebanyakan mimpi tapi minim aksi. Banyakin aksi bakal bikin lo kaya prestasi. Minimal buat diri lo sendiri lah, bisa terbebas dari ketergantungan terhadap orang lain. Beneran, jangan disepelein, ini ibadah loh.

Semakin berat tantangan yang sanggup lo hadapi, semakin besar kemampuan lo dalam membentuk kualitas dan value diri lo sendiri. Analoginya kaya waktu lo nge-gym. Orang-orang yang udah 'besar' sekarang, pasti mereka ngga cuma tidur-tiduran, mereka capek-capek dulu. Tapi capeknya pake ilmu biar dapet additional value. Bertahap demi bertahap. Dan itu biasanya ngga bakal mereka tampakkan.

Mereka terapin nih konsep delayed gratification. Mereka invest waktu mereka, energi mereka, kesenangan mereka, uang mereka, dan hal-hal yang mereka punya untuk tujuan yang besar di masa depan. Tujuannya apa? Ya, tentu personal masing-masing. Tapi tentunya, lo juga punya kan tujuan yang besar itu? Kalo belom punya, tentuin sekarang!

18 Oktober, 2022

Opini - Bumi itu bulat

Hikmah dijadikannya bumi ini bulat adalah ia akan terus-menerus berputar, begitu pula dg hal-hal yang ada di dalamnya.
Senang berganti sedih, kaya berganti miskin, cinta berganti benci dan seterusnya.
Seandainya bumi ini datar, mungkin hidup ini akan terasa sangat membosankan.

"Maka dari itu, mari bersikap biasa-biasa saja".

24 September, 2022

Opini - Hanya Sebentar

Saya ingin bercerita. Pagi tadi, saat sedang melanjutkan tadarrusan, tak sengaja saya membaca beberapa ayat yang bunyinya seperti ini.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
قَـٰلَ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِینَ
قَالُوا۟ لَبِثۡنَا یَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ یَوۡمࣲ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَاۤدِّینَ
قَـٰلَ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِیلࣰاۖ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
(Al-Mu'minun, ayat 111-113).

*Ayat  tersebut kurang lebih bercerita mengenai penghuni surga yang merasa bahwa hidup mereka di dunia terasa hanya sekejap saja. Silahkan temukan sendiri makna ataupun tafsir dari ayat tersebut.

Setelah membaca berulang-ulang sembari merenungi ayat tersebut, saya pun ikut merasa bahwa hidup ini rasa-rasanya memang benar-benar hanya sebentar saja. Mungkin setengah hari pun, sepertinya tidak sampai. Hanya seperti suatu masa ketika kita memasuki waktu pagi, kemudian tak terasa tiba-tiba kita sudah berada di sore hari, sebentaaar sekali.

Dari itu, saya coba mengingat bagaimana masa-masa kecil kita, masa-masa yang penuh kenangan. Banyak hal yang telah kita pelajari, bersama keluarga, teman-teman kecil kita, kemudian tiba-tiba tak terasa kita sudah beranjak remaja. Maka, mulailah masa-masa yang indah ketika di sekolah, SD, SMP kemudian SMA, sampai ke perguruan tinggi. Terus berlalu seperti itu, hingga kita bertumbuh seperti saat ini.

Perhatikanlah, betapa singkatnya waktu-waktu itu, masa-masa yang telah berlalu. Dari masa-masa itu, kita tahu, banyak sekali hal-hal yang ingin kita perbaiki. Seandainya bisa kembali ke masa lalu, tentulah kita akan berusaha menjadikan setiap detik menjadi jauh lebih baik.

Namun, tinta telah kering dan pena telah diangkat. Segala ketentuan sudah terlanjur ditetapkan. Bahkan sekian ribu tahun sebelum kita diciptakan. Tugas kita hanyalah berusaha untuk senantiasa ridha dan menerima segala ketentuan itu. Dan menjadikan kesalahan-kesalahan yang lalu sebagai pelajaran bagi masa-masa yang akan mendatang.

Saya berharap, mudah-mudahan Allah SWT menjadikan takdir yang baik dalam setiap nafas hidup ini. Hingga ujung nafas terakhir kita. Sehingga kita bisa berkumpul kembali, berkumpul di tempat yang jauh lebih baik dari tempat kita berkumpul saat ini. Tentu dengan keadaan yang jauh lebih baik. Dengan hati yang ridha, dengan hati yang ikhlas, dengan hati yang penuh kebahagiaan. Tiada lagi kesedihan, tiada pula penyesalan. Insya Allah.

Mudah-mudahan Allah selalu meridhai, Âmîn.

03 Agustus, 2022

Opini - Akan Bertambah

"Hidup ini terlalu singkat, jika hanya kau habiskan dengan bersedih dan berkeluh kesah. Berbahagialah! Nikmati karunia yang melimpah dari Tuhanmu. Setiap momentum tidaklah kekal dan begitu berharga. Ambillah momentum itu! Jangan buang waktumu untuk sesuatu yang tidak perlu. Ada banyak sekali peluang dan kesempatan yang datang silih berganti. Manfaatkan itu! Nikmati prosesnya! Berbahagialah lalu tersenyumlah! Tampakkan bekas-bekas nikmat Tuhan di kedua matamu. Bersyukurlah, sebab segala yang disyukuri akan bertambah", - ucap pria tua berjanggut putih dengan selendang di kepalanya.

Juli, 4th 2022

15 Mei, 2022

Opini - Pandemi Kedua (Republish)

x

22 April, 2022

Opini - Optimisme

Seorang muslim harus mempunyai sifat optimis. Optimis akan masa depan, sehingga memiliki semangat berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebab, orang Islam yang terbaik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Tentunya, manfaat itu tergantung kapasitas masing-masing orang. Bisa memberi kebermanfaatan waktu, tenaga, harta, dan sebagainya. Bahkan, hanya sekedar memastikan saudara muslim yang lain merasa aman dari lisan dan tangan kita, maka itu termasuk salah satu bentuk kebermanfaatan kita kepada orang lain.

Sifat optimis—lawannya: pesimis—adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh para kekasih Allah. Mereka dalam mendakwahkan agama Islam membawa semangat optimis bahwa mereka akan berhasil menggandeng manusia sebanyak-banyaknya untuk beriman kepada Allah dengan izin dan karuniaNya.

Optimis dalam mengejar dunia yang dilandaskan untuk beribadah juga merupakan sikap yang perlu diperkuat. Ketika tujuan itu kita niatkan untuk sesuatu yang berkaitan dengan Allah dan RasulNya serta segala sesuatu yang terkait dengannya, maka hal tersebut termasuk ke dalam perkara yang berorientasikan akhirat walau secara zahir terlihat seperti perkara dunia semata.

Optimis untuk terus berbenah. Terus berkembang. Menjadi lebih sehat. Menjadi lebih berpengetahuan. Menjadi berbudi pekerti yang baik. Menjadi lebih bermanfaat bagi banyak orang. Menjadi lebih sedikit memberikan keburukan kepada orang lain. Hingga bisa mengajak orang lain bersama-sama mencapai ridha Allah dan mencapai ma'iyatullah dan ma'rifatullah. Maka, itulah perkara yang sangat besar yang dapat memotivasi kita untuk keep on the track (istiqamah) dan tidak tersesat dalam perjalanan pulang menuju karuniaNya.

Pesimis berarti merasa putus asa dari rahmat Allah. Padahal rahmat Allah sangat luas dan mendahului kemurkaanNya. Ketika seseorang pesimis, berarti dia meragukan kemahakuasaan Allah untuk mengubah keadaannya menjadi lebih baik. Padahal Allah Maha Kuasa atas Segala Sesuatu. Maka teruslah merasa optimis dari rahmat Allah. Karena hanya Dia yang mampu mengubah keadaanmu, dengan ataupun tanpa sebab sama sekali. Seburuk apapun keadaanmu itu.

Teruslah meminta karunia kepadanya. Teruslah engkau ketuk pintu itu, maka yakinlah suatu saat pintu itu akan terbuka untukmu. "Teruslah kayuh sepedamu, maka suatu saat kau pasti akan sampai kepada tujuanmu".

6 April 2022 / 4 Ramadhan 1443

Opini - Azali

Setiap kita adalah jiwa-jiwa yang Allah ciptakan sejak zaman azali. Jiwa-jiwa itu saling berinteraksi satu sama lain kemudian ditiupkannya ke dalam jasadnya masing-masing ketika dilahirkan ke dunia.

Maka, jiwa-jiwa yang dahulu cenderung dekat pada zaman azali, ia akan saling dipertemukan kembali kemudian merajut hubungan kekeluargaan, kekerabatan, persahabatan, bahkan hubungan cinta yang sangat kuat satu sama lain. والله أعلم 

Jumat, 13 Ramazan 1443 H

24 Maret, 2022

Opini - Kejutan

Segala sesuatu yang kita alami adalah sekumpulan dari hubungan sebab akibat yang masing-masing saling mempengaruhi. Sekecil apapun itu. Seandainya salah satu hubungan yang telah lalu itu bisa kita ubah, maka keadaan kita tentu tidak akan 'se-spesial' seperti saat ini.

Kabar baiknya, ketika hal tersebut mampu kita pahami dan sadari dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih, maka seketika kita akan bersyukur dan merasa yakin bahwa kejadian-kejadian yang lalu itu sengaja Allah tuliskan agar Dia menjadikan kita versi terbaik seperti yang sekarang ini. Yaitu, seorang manusia yang mampu mengevaluasi dan belajar dari hal-hal yang menimpa dirinya. Kemudian, menyadari bahwa ketetapan itu adalah 'kejutan' yang ingin Dia anugerahkan kepada seluruh umat manusia.

"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." - Q.S. an-Nahl: 97.

17 Februari, 2022

Opini - Malu

Dalam beberapa hadis, banyak disebutkan bahwa "Jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu". Bukan terkadang, tetapi seringkali kita merasa malu semalu-malunya apabila borok-borok yang selama ini tersembunyi dalam jubah kita berhasil diketahui oleh orang lain, walaupun cuma satu orang aja. Kita merasa malu karena citra kita yang sutji, kedudukan kita yang tinggi, nasab kita yang disegani itu seakan runtuh seketika ketika orang-orang berhasil mengetahui aib-aib yang kita sembunyikan dari pandangan mereka. Walaupun sebenarnya kita tahu betul bahwa seandainya dosa itu memiliki bau, maka tidak ada satupun manusia yang betah berlama-lama berdekatan dengan kita. Tapi, kita seolah-olah lupa dan mengabaikannya.

Celakanya, saat kita merasa malu sejadi-jadinya karena borok kita telah terekam oleh penglihatan orang lain, justru kita malah merasa acuh tak acuh seakan-akan terputuslah itu urat malu bahkan merasa tenang-tenang saja dengan perbuatan buruk yang kita lakukan. Padahal kita paham betul bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi gerak gerik setiap makhlukNya, baik yang tersirat di dalam kalbu maupun yang nampak pada lisan dan amal perbuatan. Segala sesuatu yang lembut bahkan jauh lebih lembut daripada kata lembut itu sendiri terlalu mudah untuk Dia awasi.


Beruntungnya, Dia menetapkan bahwa Rahmat-Nya jaauuh mendahului kemurkaanNya. Dibuatnya kesalahan-kesalahan kita tak tersisa hanya dengan satu asbab yang relatif ringan-ringan saja. Tidak sampai harus membunuh diri kita sendiri—seperti dalam syariat umat terdahulu. Satu untaian doa disertai penyesalan saja sudah cukup untuk menjadi tebusan agar diampuniNya kesalahan-kesalahan manusia. Setinggi-tingginya dosa tak pernah lebih tinggi daripada tingginya ke-Maha-PengasihanNya.

Sayangnya lagi, seringkali kali kita menjadikan kemurahan ini sebagai jalan tikus untuk terus menerus dijadikan alasan ketika melanggar perintahnya, walaupun sejatinya perintah itu ialah untuk kebaikan diri kita sendiri. Sudah sepatutnya lah kita tersadar. Kita harus belajar dari pengalaman diri kita masing-masing juga pengalaman dari orang lain.

Kesalahan-kesalahan yang bertumpuk, lama-lama akan menghitamkan hati, yang artinya jiwa kita akan menjadi gelap sebab cahaya ngga bisa masuk. Kalau cahaya tidak bisa masuk alias ngga ada cahaya, ya kitanya ngga bisa ngeliat mana yang kurma mana yg kecoa. Mana yang haq mana yang hoax.

Maka, cukuplah rasa malu kepadaNya kita jadikan sebagai satu alasan yang kuat untuk mencegah nafsu dan setan yang berada di samping kita berbuat sesuka hati mereka, yakni menentang dan melawan seruan-seruan indah melalui kalam RasulNya. Sebab, jika dengan rasa malu kepadaNya saja kita nggak bisa berusaha meninggalkan larangan-larangannya, lantas dengan apa lagi?


16 Februari, 2022

Opini - Harapan

Teruslah terhubung dengan orang terdekatmu, orang tuamu, saudara-saudaramu, keluarga besarmu, guru-gurumu, sahabat-sahabatmu. Jangan biarkan ikatan itu terputus. Mintakanlah selalu kebaikan atas mereka. Berniatlah untuk bisa membalas semua kebaikan yang mereka berikan kepadamu walaupun mungkin kamu tidak akan dapat mampu melakukan semua itu. Mafkanlah segala kesalahan mereka, mudah-mudahan, Allah SWT kelak akan mempersatukan kita kembali di Surga-Nya. Amiin.

07 Januari, 2022

Opini - Sederhana

Semakin sederhana kita mendefinisikan bahagia, semakin mudah kita mendapatkannya. Semakin rumit kita mendefinisikan bahagia, semakin jauh kebahagiaan itu kita dapatkan.

Konsep minimalisme sebenarnya tidak hanya berlaku pada hal-hal yang bersifat materil saja. Lebih dari itu, hal-hal yang bersifat imateril pun bisa kita terapkan. Beberapa diantaranya ialah dengan menyederhanakan mindset kita tentang bahagia, merasa cukup dengan yang kita punya, membuang keinginan-keinginan yang 'menjerat', dan menunda kesenangan-kesenangan sementara yang sebenarnya kita tahu bahwa hakikatnya kesenangan itu bersifat semu. Ketika kita bisa melakukan itu semua, maka kebahagiaan lahir batin akan jauh lebih mudah untuk kita dapatkan.

Sungguh merugi, ketika kita mensyaratkan kebahagiaan dengan keinginan pada hal-hal yang sulit kita dapatkan. Kita baru merasa bahagia ketika keinginan-keinginan kita semuanya terpenuhi. Kita ingin mempunyai karier yang melejit, mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang lain, memiliki barang-barang mewah, dsb. Padahal sebenarnya jika kita sadari betul-betul, kita tidak benar-benar membutuhkan itu semua. Kita sadar bahwa bahagia itu murah dan mudah tapi terkadang keinginan kita-lah yang membuatnya menjadi susah.

Tapi, tunggu dulu! Bukan berarti kita hanya bermalas-malasan. Tidak! Justru sebaliknya. Kita sebagai umat muslim harus memiliki cita-cita dan harapan yang tinggi. 

Salah satu perkataan ustaz saya, "büyük hedef imandandır", cita-cita yang tinggi adalah sebagian daripada iman. Mengapa? Sebab ketika kita mempunyai cita-cita dan harapan yang tinggi kemudian kita yakin sepenuhnya bahwa Allah SWT Maha Mampu Mewujudkannya, maka hal itu sebagian daripada keimanan. Tentunya, cita-cita tersebut harus diikuti dengan ikhtiar walaupun minimal. Kemudian, kita harus berusaha untuk konsisten menjalankannya. Tidak penting seberapa cepat kita berjalan, yang terpenting adalah kita tidak pernah berhenti melakukannya.

"Just set some little goals and just move very very slow". - Ali Banat (رحمه الله). + rest early and living a fruitful life - Fooann Alexander 

28 Desember, 2021

Opini - Mencintai

Seseorang akan merasakan gejolak cinta ketika adanya ikatan yang kuat antara satu sama lain. Ikatan tersebut muncul atas bentuk ekspresi atau respon atas kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya. Dari adanya gejolak cinta tersebut, maka muncul himmah atau gairah yang tulus dan suci untuk mengabdikan seluruh jiwa, raga dan hartanya kepada al-mahbûb atau orang yang dicintainya tersebut.

Maka, saya coba kutip dari salah satu film romansa terpopuler "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck", bahwa Zainuddin berkata benar bahwasanya 'Kenikmatan terindah adalah kenikmatan mencintai'.

22 Desember, 2021

Opini - Rasakan Lalu Mengerti

Untuk mengetahui persoalan hati, maka kita harus coba merasakannya sendiri. Sebab untuk menjelaskan rasa, tidak cukup jika hanya dengan menggunakan kata-kata. Seperti ketika kita ingin mengetahui bagaimana manisnya madu, maka kita harus merasakan sendiri madu tersebut. Sebab manisnya madu berbeda dengan manisnya gula atau manisnya hidup—ketika bersamamu, sekalipun kesemuanya memiliki aksesoris rasa manis yang sekilas membuatnya sama.

Begitupun manisnya cinta dan pahitnya kesedihan. Untuk bisa mengetahui rasa manis dan getirnya secara detil, kita harus merasakan cinta dan kesedihan itu sendiri-sendiri, yaitu dengan 'lidah' kita masing-masing. Buatlah lidah kita sentiasa terbuka. Terbuka untuk segala rasa yang melaluinya. Sehingga hidup kita semakin kaya, jiwa ini semakin terisi oleh aneka rasa yang pernah singgah di permukaannya.

Dan suatu saat, salah satu dari aneka rasa itu pasti 'kan menetap. Diam berlabuh, pada lidah mereka-mereka yang jiwanya tangguh.

22 November, 2021

Opini - Bersyukur

Merasa senang dalam segala keadaan adalah bentuk syukur yang hanya diberikan bagi sebagian kecil hamba-hambanya. Wa qalilun min ibadiya asy-syakuur. 

Begitupun merasa sedih, sumpek, susah dalam segala keadaan adalah bentuk kufur yang amat lembut kepada Tuhan. Maka, bersedihlah dan menangislah sekuat-kuatnya. Biarkan semuanya keluar dari dalam tubuhmu. Teruslah engkau menangis hingga esok kesedihan itu habis, sehingga kamu bisa memulai lembaran hidupmu yang baru.

Siapa yang tidak pandai bersyukur dengan nikmat yang kecil, dia tidak pandai bersyukur dengan nikmat yang besar.

06 November, 2021

Opini - Kekosongan

Pernah ngga sih kamu merasa galau dengan masa depanmu? Kamu galau sama kariermu, jodohmu, prestasimu, keluargamu nanti dan segala hal yang menjadi mimpi-mimpimu? Atau mungkin, kamu galau sama hal-hal yang sebenarnya ngga terlalu esensial buat hidupmu, seperti popularitas misalnya, kehormatan dan lain sebagainya. Tetapi, setelah kamu bisa nih dapetin itu semua, atau beberapanya, kamu justru merasa kosong, kamu merasa biasa-biasa aja, seolah-olah itu semua ngga ada nilainya buat kamu? Nah, itu keadaan yang saat ini saya pikir sering kita rasakan.

Di salah satu podcast, saya menemukan sebuah analogi yang unik. Nilai kehidupan kita diumpamakan seperti kombinasi bilangan biner. Kita diminta mengumpamakan sesuatu yang akan usang dengan angka 0 dan sesuatu yang tidak akan usang dengan angka 1. Misalnya angka 0 kita isi oleh hal-hal yang kita galaukan tadi; seperti pekerjaan, pasangan, sahabat, kekayaan, mimpi-mimpi dan sebagainya. Sedangkan angka 1 harus kita isi dengan sesuatu yang entitasnya selalu eksis sejak awal sampai akhirnya, bahkan sebelum kata awal dan akhir itu ada. Tentu kita tahu, siapa lagi kalau bukan Allah Tuhan Semesta Alam.

Di sini, saya mengambil contoh misalnya saya berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan saya, maka saya mendapatkan nilai 0. Kemudian saya juga berhasil mendapatkan pasangan yang saya idam-idamkan, maka nilai saya menjadi 00. Kemudian saya juga berhasil mendapatkan kekayaan, jabatan, kehormatan dan popularitas, maka nilai saya menjadi 000000. Nah, kita tahu dengan jelas bukan kalau nilai itu jumlahnya terlihat sangat banyak. Padahal, esensinya nilai itu hanyalah nol alias kosong, ngga ada nilainya. Coba, seandainya saya libatkan Allah di situ dan saya letakkan Allah di paling depan, maka nilainya akan sangat jaaauh berbeda. Yang semula hanya ada 6 digit angka 0, ketika kita tambah nilai 1 di depannya, maka nilainya berubah jadi 1.000.000. Jauh banget kan?

Dari hal-hal yang paling kecil sekalipun, macam olahraga, kumpul bareng teman, ngerjain tugas kuliah, bahkan dari bangun tidur sampai tidur lagi, kalau kita ngga taruh tuh nilai 1 di awal, maka ujung-ujungnya akan kosong juga, ngga ada nilainya. Terus gimana kalau kita tambahkan nilai 1 di akhir alias kita letakkan Allah di paling akhir? Ya, kita hanya dapat nilai 1, nilai 0 yang seabrek itu jadi tidak ada artinya, sedikitpun ngga memberikan tambahan nilai dalam kehidupan kita.

Dari situ, saya mengajak dan mengingatkan diri saya sendiri untuk mentashih niat kita dan memenuhi apa maunya Allah. Kita diminta belajar ya kita belajar. Kita diminta bekerja ya kita bekerja. Kita diminta berbuat baik ya kita berbuat baik. Kita diminta menikah ya kita menikah :3. Tapi jangan sampai kita tidak melibatkan Allah. Letakkan Allah di awal dan jadikan Dia satu-satunya sebab dan alasan kita dalam melakukan sesuatu. Jika itu kita lakukan, maka saya yakin capaian itu akan terasa manis dan menjadi sangat bernilai di dalam kehidupan ini. Ngga ada lagi urusan sama galau-galauan.

Kata guru-guru saya, Allah itu ibarat matahari sedangkan dunia ibarat bayangannya. Jika kita memilih mengejar bayangan, maka bayangan itu tidak akan mampu kita kejar dan justru kita akan semakin menjauh dari matahari. Sebaliknya, jika kita mengejar matahari, maka kita akan semakin dekat dengan matahari dan bayangan itu justru akan berbalik mengikuti kita. Senikmat-nikmatnya kenikmatan di dunia, tetap saja ia hanyalah bayangan dari kenikmatan di akhirat. Begitu juga seberat-beratnya azab di dunia, tetap saja ia hanyalah bayangan dari azab di akhirat.

Ucapan yang selalu kita baca minimal 11 kali setiap salat, Allahu Akbar, sepertinya masih belum benar-benar kita hayati dengan baik. Masih banyak yang lebih akbar di hati kita daripada Allah. Sedangkan dalam Surah al-Ankabut, Allah menyebutkan bahwa perumpamaan orang-orang yang mengambil sandaran selain Dia adalah seperti laba-laba yang sedang membuat rumah. Padahal kita semua tahu, selemah-lemahnya rumah ialah rumahnya laba-laba.

Tapi ngomong-ngomong, memangnya kenapa sih Allah memperingatkan kita untuk tidak bersandar kepada selainNya? Jawabannya kurang lebih karena Dia Maha Pencemburu. Dia ngga suka kalau kita bermesraan sama yang lain. Padahal dia yang menciptakan kita, dia yang memberikan kita rezeki, yang memberikan kita ilmu hingga kita menjadi seperti ini. Ehh, kitanya malah sok asik sama yang lain. Kan ngga GG.

Terkahir, saya sangat suka dengan prinsip hidup salah satu kyai favorit saya, Gus Baha. Filosofi hidup yang menjauhkan kita dari kegalauan masa lalu ataupun yang akan datang. "Hidup ngga usah dibuat sulit, dibuat ruwet. Asal tidak maksiat, dapat menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang serta tidak mengusik kehidupan orang lain, itu sudah cukup".

04 November, 2021

Opini - Proses : Normal

Di usia yang pelan-pelan mulai mendewasa ini—ehm—saya mulai sering berpikir tentang hal-hal yang sepertinya cukup "fundamental" dalam kehidupan saya. Saya bahkan tidak tahu ingin menjadi apa dan tidak tahu apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini. Alhasil saya hanya mengikuti arus, hidup asal hidup kalau mati ya asal mati. Seringkali ketika scroll-scroll status teman-teman saya mikir, "Weh, koncoku kok keren-keren cah! Lah aku gimana ya? Kok gini-gini aja".

Begitulah yang seringkali aku lakukan, membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Teman-temanku ada yang sukses jualan melalang buana ke seluruh dunia, ada yang jadi da'i, ada yang dapet beasiswa luar negeri, ada yang udah ketemu pasangan sehidup sesurgawi, ada juga yang sekedar duduk manis di kamar sendiri tapi transferan automaticaly menghampiri. Memang ini bukan sekedar masalah duit, tapi maksudnya adalah bagaimana membuat diri ini menjadi bergerak setidaknya satu langkah setiap hari hingga dapat memberikan manfaat bagi yang lain—termasuk kucing, dan nggak diam saja gitu kayak patung polisi di perempatan Gramedia—yang orang Jogja pasti paham lah ya.

Saya tahu manusia itu diibaratkan seperti air, ketika dia mengalir maka dia akan jernih dan memberikan kehidupan bagi yang lain, ketika mandeg ya lama-lama jadi butek dan semakin butek. Ada sih kehidupan, tapi isinya parasit semua. Pernah suatu ketika aku iseng-iseng mendengarkan ceramah Habib Muhammad bin Anis Shahab—yang dari Malang itu loh. Beliau ditanya,

"Gimana sih caranya sabar?"
"Ya sabar!".
"Gimana sih caranya syukur?"
"Ya syukur!"

Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah "paksakan!". Kalau kata orang sunda, "Allahumma Paksakeun". Saya kasih contoh nih, misalnya saya pengen naik ke lantai 10 gedung Burj al-Khalifa, tapi saya punya kaki diem aja, ya selamanya saya ngga akan sampai. Kalaupun misalnya saya bisa naik lift, toh untuk naik lift saya juga kudu jalan, kudu buka pintunya, kudu masuk, kudu mencet tombol-tombolnya. Ngga bakalan ujug-ujug saya sampe di lantai 10 gedung itu, karena di dunia ini normalnya segala hal membutuhkan proses.

Nah, ini sebenernya cocok sama apa yang Allah SWT firmankan bahwa Innallaha Laa Yughayyiru Maa Biqaumin Hatta Yughayyiruu Maa Bi'anfusihim. Simpelnya gini, Allah ngga akan ngeubah keadaan kita kalau kitanya diem aja, ngga punya effort untuk ngeubah diri kita sendiri. Begitu juga kata guru-guru kita, al-Barakah fi al-Harakah. Keberkahan itu ada di dalam harakah. Mulai aja dulu— kata iklan Tokopedia. Cuman sayang beribu sayang, ngelakuinnya susah bener sodara-sodara. Asli dah beneran! Hehe, mungkin ada yang punya ide? Silahkan bisa komen di bawah.

Opini - Hidayah

Karakter pemuda Muslim masa kini sepertinya ikut pupus tergores ukiran zaman. Sayangnya—walau dalam hati, seringkali kita lebih senang mengatakan "Dia salah!", tanpa melihat cermin yang memantulkan wajah kita sebenarnya. Padahal kata Al-Qur'an, "fala: tuzakku: anfusakum" (janganlah kalian merasa suci—dari kesalahan). Beruntungnya, akhir-akhir ini justru saya melihat bahwa seburuk dan sejauh apapun seseorang pada akhirnya mereka merasa rindu untuk lebih dekat dan lebih mesra dengan Tuhannya. Saya menduga, mereka merasa lelah dengan segala keruwetan yang tak kunjung terentaskan.

Dari situ, mereka tersadarkan bahwa ketenangan hati hanya akan didapati ketika dekat dengan Yang Maha Baik Hati. Banyak saya temukan teman sepermainan, saudara, bahkan orang-orang yang saya anggap "besar" melepas borok kulitnya perlahan-lahan kemudian menggantinya dengan jubah yang jauh lebih indah dan menenangkan. Disitulah sejatinya, Dia ingin menunjukkan kemahabaikanNya. Sebab hidayah tidak ada di tangan seorang Nabi tidak pula di tangan seorang kyai, tapi hidayah murni datang dari al-Hâdi lalu meresap jauh ke dalam sanubari.


02 November, 2021

Opini - Pandemi Kedua



Namaku Wildan. Aku menyelesaikan tulisan ini di usia 21 tahun lebih 3 bulan. Dimulai di tanah kelahiran, selesai di negeri perantauan. Negeri yang mencuri hati setiap orang yang kadung menapakkan kaki di permukaannya. Sejatinya, tulisan ini aku persembahkan khusus untuk dirinya. Sebagai suatu tanda bahwasanya dahulu pernah hidup seseorang bernama dia di tengah-tengah kota yang masyhur dengan kerendahan hatinya.

Cerita ini dimulai pada akhir bulan Februari 2020. Aku masih ingat kejadian itu. Awal mula pandemi memperkenalkan dirinya. Ketika itu, ramai berita di berbagai media menggambarkan sekumpulan manusia yang mati ketakutan. Seolah menunggu giliran kemudian memperingatkan kepada dunia bahwa hidup ini dapat berakhir kapan saja. Aku merasa gelisah ketika itu. Gelisah yang sebenar-benarnya. Aku merasa khawatir kalau-kalau menjadi bagian kecil dari episode menyeramkan ini.

Beberapa waktu setelah itu, aku memberanikan diri melawan semua ketakutanku. Aku pun memeriksakan diri ke salah satu instansi kesehatan. Tapi kedatanganku justru membawaku masuk lebih dalam menuju perasaan penuh ketakutan. Aku mengalami gejala-gejala yang biasa diberitakan oleh media. Saat itu juga, orang tuaku merasa sangat khawatir lalu menelpon dan memintaku agar segera kembali ke pangkuannya. Aku mengiyakannya.

Ketika sampai di rumah, keadaan di sana terasa sangat jauh berbeda. Aku tak sekhawatir ketika itu, ketika aku masih berada di perantauan. Mungkin karena kampung halamanku tidak banyak dikunjungi oleh orang-orang, aku pun merasa aman dan akan baik-baik saja. Walau begitu, aku tetap berusaha menjaga diri agar aman dari ancaman wabah ini.

Setelah cukup lama berdiam di kampung halaman, tanpa permisi, tiba-tiba wabah kedua kembali berdatangan. Wabah ini sangat mengerikan. Bukan wabah yang membunuh ratusan ribu manusia. Tapi wabah yang belakangan ini menghantui pikiran kebanyakan dari manusia. Ya, krisis kesehatan mental.

Dalam tulisan ini, aku akan sedikit mengangkat sesuatu yang mungkin tidak banyak dibahas di dalam buku ini.

Pada masa-masa awal keberadaanku di rumah, aku menemukan banyak kesalahan dalam diriku. Aku memiliki banyak masalah yang mengganggu perjalanan mimpi-mimpiku. Benarlah pepatah jawa, yen dipangku mati. Seseorang yang biasa diberikan kemudahan akan mati dan tidak dapat mengembangkan kemampuannya dengan maksimal. Seketika itu, aku kecewa kepada diriku sendiri.

Suatu ketika di sela-sela waktuku di rumah, aku menemukan sebuah kisah yang menarik dari siaran salah satu podcast yang aku tidak ingat lagi namanya.

Dikisahkan pada suatu zaman hidup lah seorang kakek yang arif dan bijaksana. Dia tinggal di puncak bukit yang cukup tinggi. Setiap hari dia selalu dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai kampung untuk meminta nasihatnya. Orang-orang pun merasa kagum atas kebijaksanaannya. Akan tetapi, hal ini membuat kaum pemuda di kampung-kampung itu merasa tidak senang kepadanya karena orang tua mereka seringkali memperlakukan mereka dengan perilaku yang tidak mereka sukai. Perlakuan itu merupakan akibat dari petuah-petuah yang diberikan si kakek kepada orang-orang tua mereka. Sayangnya, sebagai kaum pemuda yang mempunyai prinsip kebebasan di atas segalanya, mereka menolak nasihat-nasihat itu.

Pada suatu hari, para pemuda marah besar karena merasa banyak diatur oleh orang-orang tua mereka. Mereka pun menyusun rencana licik agar si kakek itu tidak lagi didatangi dan dimintai nasihatnya sehingga mereka tidak mendapatkan lagi perlakuan yang menjengkelkan dari orang-orang tua mereka. Akhirnya mereka menyusun rencana liciknya. Mereka meminta salah seorang dari mereka untuk membawa seekor burung lalu diletakkannya burung itu dibalik tangannya. Ketika mereka sampai di sana mereka akan bertanya kepada si kakek perihal barang apakah yang sedang mereka bawa. Jika kakek itu tidak mampu menjawabnya, mereka akan berteriak dan berkata, “Wahai semuanya, orang yang kalian sebut arif ini adalah seorang pendusta!”. Akan tetapi jika kakek itu mampu menjawabnya, mereka akan kembali bertanya, “Apakah burung ini hidup ataukah mati?”. Jika kakek itu menjawab mati maka akan dilepaskannya burung itu dari tangannya. Akan tetapi, jika kakek itu menjawab hidup maka akan digenggamnya burung itu sampai mati. Sehingga tidak ada kesempatan bagi si kakek untuk menjawabnya dengan benar.

Setelah semuanya dipersiapkan, mereka bersama-sama mendaki puncak bukit. Mereka membawa hasrat yang kuat untuk mempermalukan si kakek. Setelah sampai di rumah si kakek, mereka justru disambut dengan ucapan salam yang lembut dan menyejukkan hati. Akan tetapi mereka malah mengacuhkannya lalu segera bertanya kepadanya,

“Apakah yang sedang kami bawa?”, tanya mereka dengan cepat.

“Apakah maksud kalian wahai anak-anakku?”, jawab si kakek dengan lembut.

“Jawab saja! Apakah yang sedang kami bawa?”, ucap mereka dengan nada meninggi.

“Yang kalian bawa adalah seekor burung”, jawab si kakek.

“Anda benar! Lalu, apakah burung ini hidup ataukah mati?”.

“Apakah kalian benar-benar menginginkan jawabannya?”, tanya si kakek dengan tenang.

“Jawab saja! Apakah burung ini hidup ataukah mati?”, tanya mereka. Mendengar perkataan mereka, kakek itu pun hanya tersenyum lalu menjawab, “Jawabannya ada di tanganmu, wahai anak-anakku!”.

Mendengar kisah itu, aku mulai berpikir lalu berpikir kemudian berpikir dan akhirnya menemukan bahwa biang dari segala sumber masalah adalah keinginan-keinginan yang tak terpenuhi. Aku menyadari bahwa keinginan adalah sumber utama dari segala kekecewaan. Aku terlalu idealis terhadap diriku sendiri sehingga aku merasa tak mampu lagi untuk sekedar berterima kasih kepada diri sendiri. Padahal Allah telah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang membuat kita mempunyai keunikannya sendiri-sendiri.

Sudah terlalu hilir malam, apa hendak dikata lagi. Kita semua mafhum. Dua pandemi terlanjur memperkenalkan dirinya ke khalayak umum. Walau begitu, banyak sekali pintu-pintu hikmah yang mulai terbuka lewat perantara dua peristiwa ini.

Adapun dari pengalaman penulis, pintu utama dari pintu-pintu hikmah yang mulai terbuka adalah kesempatan merenungkan kembali tujuan hidup kita di muka bumi ini. Dari hasil perenungan itu, penulis menggambarkan manusia seperti sekumpulan cerita. Penuh dengan plot yang mengejutkan. Sayangnya, kita tidak pernah tahu, di halaman berapa kita saat ini dan seperti apa kisah yang akan kita temui di lembaran selanjutnya nanti. Satu hal yang kita tahu, “Bacalah ceritamu, lalu selesaikanlah!”. Kita percaya Sang Penulis akan menuliskan kisah-kisah mengejutkan yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya.

Sebagai seorang manusia, kita juga harus mempunyai prinsip. Kita harus punya tujuan. Sebab — kata Habib Novel Alaydrus — hanya mereka yang memiliki tujuan yang berani melangkahkan kakinya. Untuk itu, tidak ada salahnya mulai bermimpi membangun masa depan yang lebih baik lagi. Bermimpi saja dahulu, Allah pasti mendengarkannya. Karena bagiku bermimpi adalah pekerjaan yang sangat mengasyikkan. Kita hanya perlu duduk manis sambil memandangi langit. Atau mendengar suara fana, terbang memutari isi kepala. Sekumpulan ingatan bernama kenang-kenangan.

Hidup ini tidaklah rumit begitupun tidak sesederhana apa yang kita bayangkan. Kita lah yang membuatnya rumit dengan menciptakan kekhawatiran-kekhawatiran di kepala kita. Nikmati sajalah masa-masa saat ini. Biarkan Sang Sutradara bekerja dan membuat kita takjub dengan skenarionya. Tapi jangan menikmatinya sendirian. Buatlah rencana. Perbanyaklah niat baik. Lalu lakukanlah niat-niat itu dengan hati yang tulus. Belajarlah untuk tidak munafik terhadap diri kita sendiri.

Di sisi lain, penulis juga mengamati bahwa siklus hidup manusia mirip seperti siklus hidup tanaman putri malu yang tumbuh di tepian jalan. Tumbuh, kuncup, mekar, semerbak, layu, lalu mati. Bayangkan setiap siklus hidup ini adalah sebuah titik. Lalu titik itu bertambah dan terus bertambah dan menjadi sangat banyak. Yang perlu kita lakukan adalah menghubungkan titik-titik itu menjadi suatu garis yang utuh. Sehingga terbentuklah pola-pola yang estetik dalam garis kehidupan ini.

Aku sadar bahwa aku adalah orang yang memiliki idealisme tinggi. Walaupun begitu, aku jauh lebih sadar bahwa ada begitu banyak kekurangan yang aku miliki. Menurutku, kekurangan itu seiring berjalannya waktu akan teratasi sedikit demi sedikit.

Dipenuhi sifat pengecut, pemalas, dan sembrono, bahkan tak berani menghadapkan wajahnya sendiri terkadang membuatku merasa rendah diri di hadapan manusia. Tapi, untung beribu untung, hamba memiliki Dia yang Maha Menjunjung. Mengangkat hamba-hambanya yang lemah dari lembah kedurjanaan menuju ujung angkasa tempat bernaungnya bintang tsurayya.

Pandemi mengajarkan kita untuk menikmati keadaan ini dengan lebih percaya diri. Melalui masa perenungan yang panjang. Dari sudut ke sudut pelataran rumah. Dari belakang pagar tembok balkon asrama. Cahaya senja. Dekapan angin. Nyanyian burung. Elemen-elemen itu mengaktifkan kembali indera-indera perasaanku ini. Akhirnya si melankolis pun mengerti dan menemukan kembali impian terbesar di dalam hidupnya; membahagiakan mamah, membahagiakan ayah, membahagiakan perempuan yang kelak akan merawat dan menemani anak-anaknya. Itu saja. Tidak kurang tidak lebih. Terdengar sederhana memang. Tapi percayalah, tugas ini sangatlah berat. Mudah-mudahan Yang Maha Mendengar menjawab ungkapan perasaan hatinya. Amin.

Sifat dasar manusia adalah pelupa. Sebagaimana asal katanya dalam bahasa Arab — nasiya, yansaa, nasyan, manusia (baca: saya) memang harus selalu diingatkan. Oleh karena itu, penulis berharap agar kiranya engkau sempatkan membaca kembali tulisan ini pada waktu-waktu yang lain.

Hidup ini adalah mimpi. Karenanya aku selalu berharap. Mudah-mudahan kelak Dia membangunkan kita dengan penuh kelembutan. Sampai kita dapat bertemu kembali dengan orang-orang yang kita cintai.

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Marilah kita bersama-sama memperbaiki apa yang bisa kita perbaiki. Sebisa apa yang bisa kita lakukan. Mulai dari menjaga diri sendiri lalu menjaga diri orang lain. Harapannya adalah kedua wabah ini dapat segera pamit meninggalkan kita dan meninggalkan orang-orang yang dekat dengan kita.

Akhirnya, puji dan syukur hanyalah untukNya. Selawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada kekasihNya. Salam dan syukur terucap kepada semua orang yang telah menggoreskan titik-titik cerita dalam kisah perjalanan hidup saya. Terakhir. Teruntuk kamu 2020, terima kasih atas pelajaran yang telah engkau berikan.

Bionarasi:

Wildan Syafiq, penikmat malam, pengagum senja. Lahir di Cilacap, 30 Juli 1999. Terkadang dipanggil Willy. Temukan saya di Instagram @wildansyafiq. “Ombak tidak akan pernah tenang, tapi kita bisa menikmatinya”.