04 November, 2021

Opini - Hidayah

Karakter pemuda Muslim masa kini sepertinya ikut pupus tergores ukiran zaman. Sayangnya—walau dalam hati, seringkali kita lebih senang mengatakan "Dia salah!", tanpa melihat cermin yang memantulkan wajah kita sebenarnya. Padahal kata Al-Qur'an, "fala: tuzakku: anfusakum" (janganlah kalian merasa suci—dari kesalahan). Beruntungnya, akhir-akhir ini justru saya melihat bahwa seburuk dan sejauh apapun seseorang pada akhirnya mereka merasa rindu untuk lebih dekat dan lebih mesra dengan Tuhannya. Saya menduga, mereka merasa lelah dengan segala keruwetan yang tak kunjung terentaskan.

Dari situ, mereka tersadarkan bahwa ketenangan hati hanya akan didapati ketika dekat dengan Yang Maha Baik Hati. Banyak saya temukan teman sepermainan, saudara, bahkan orang-orang yang saya anggap "besar" melepas borok kulitnya perlahan-lahan kemudian menggantinya dengan jubah yang jauh lebih indah dan menenangkan. Disitulah sejatinya, Dia ingin menunjukkan kemahabaikanNya. Sebab hidayah tidak ada di tangan seorang Nabi tidak pula di tangan seorang kyai, tapi hidayah murni datang dari al-Hâdi lalu meresap jauh ke dalam sanubari.


Share:

0 comments:

Posting Komentar