17 Februari, 2022

Opini - Malu

Dalam beberapa hadis, banyak disebutkan bahwa "Jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu". Bukan terkadang, tetapi seringkali kita merasa malu semalu-malunya apabila borok-borok yang selama ini tersembunyi dalam jubah kita berhasil diketahui oleh orang lain, walaupun cuma satu orang aja. Kita merasa malu karena citra kita yang sutji, kedudukan kita yang tinggi, nasab kita yang disegani itu seakan runtuh seketika ketika orang-orang berhasil mengetahui aib-aib yang kita sembunyikan dari pandangan mereka. Walaupun sebenarnya kita tahu betul bahwa seandainya dosa itu memiliki bau, maka tidak ada satupun manusia yang betah berlama-lama berdekatan dengan kita. Tapi, kita seolah-olah lupa dan mengabaikannya.

Celakanya, saat kita merasa malu sejadi-jadinya karena borok kita telah terekam oleh penglihatan orang lain, justru kita malah merasa acuh tak acuh seakan-akan terputuslah itu urat malu bahkan merasa tenang-tenang saja dengan perbuatan buruk yang kita lakukan. Padahal kita paham betul bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi gerak gerik setiap makhlukNya, baik yang tersirat di dalam kalbu maupun yang nampak pada lisan dan amal perbuatan. Segala sesuatu yang lembut bahkan jauh lebih lembut daripada kata lembut itu sendiri terlalu mudah untuk Dia awasi.


Beruntungnya, Dia menetapkan bahwa Rahmat-Nya jaauuh mendahului kemurkaanNya. Dibuatnya kesalahan-kesalahan kita tak tersisa hanya dengan satu asbab yang relatif ringan-ringan saja. Tidak sampai harus membunuh diri kita sendiri—seperti dalam syariat umat terdahulu. Satu untaian doa disertai penyesalan saja sudah cukup untuk menjadi tebusan agar diampuniNya kesalahan-kesalahan manusia. Setinggi-tingginya dosa tak pernah lebih tinggi daripada tingginya ke-Maha-PengasihanNya.

Sayangnya lagi, seringkali kali kita menjadikan kemurahan ini sebagai jalan tikus untuk terus menerus dijadikan alasan ketika melanggar perintahnya, walaupun sejatinya perintah itu ialah untuk kebaikan diri kita sendiri. Sudah sepatutnya lah kita tersadar. Kita harus belajar dari pengalaman diri kita masing-masing juga pengalaman dari orang lain.

Kesalahan-kesalahan yang bertumpuk, lama-lama akan menghitamkan hati, yang artinya jiwa kita akan menjadi gelap sebab cahaya ngga bisa masuk. Kalau cahaya tidak bisa masuk alias ngga ada cahaya, ya kitanya ngga bisa ngeliat mana yang kurma mana yg kecoa. Mana yang haq mana yang hoax.

Maka, cukuplah rasa malu kepadaNya kita jadikan sebagai satu alasan yang kuat untuk mencegah nafsu dan setan yang berada di samping kita berbuat sesuka hati mereka, yakni menentang dan melawan seruan-seruan indah melalui kalam RasulNya. Sebab, jika dengan rasa malu kepadaNya saja kita nggak bisa berusaha meninggalkan larangan-larangannya, lantas dengan apa lagi?


Share:

0 comments:

Posting Komentar