Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

05 Mei, 2024

Cermin - Risalah Perjalanan Kopi


Tuan.. Semalam, kopimu terperangkap. Dalam cangkir putih yang sunyi. Tercebur, dalam lautan panas. Melebur, dalam larutan gelap. Menangis, hilang tak berwujud. Hanya sisa aroma maujud. Namun, tahukah Tuan? Ia tak sendiri. Secangkir putih turut menemani. Ia tak tega. Melihat secangkir jiwa, tenggelam bersama lamunan sunyi. Heningnya malam, memaksanya tunduk. Terombang bersama, pusara keputusasaan. Namun, mereka begitu tabah. Dari segala ingin tuannya. Tentu saja, tuan tak mengerti. Hatta, tak pernah peduli. Meski mereka tahu, "Memang, beginilah ketentuannya!". Sudah termaktub lama, dari jalanan Italia. Malang memang. Pahit sudah kepastian. Sampai ketika diujung temu, mereka menyusut. Menuju akhir ketiadaan. Berharap satu penutup. Pujian ke atas Tuhan. Demikian, risalah perjalanan. Dari secangkir kopimu ini. Agar kiranya tuan menyadari, arti "Selamat Menikmati".


Bornova, İzmir

04 Mayıs 2024

30 Maret, 2023

Prosa - Namanya adalah Yasmin (Bagian I)

Prolog

Aku adalah manusia tak bersejarah. Orang tuaku telah berpisah sedari aku kecil. Ayahku pergi tak tau arahnya. Sedang ibuku pergi merantau ke negeri seberang. Maka dipungutlah aku oleh kemenakan ibuku yang tak tega melihat keadaan seorang anak yang telah kering air matanya. Selepas aku hidup di dalam keluarga kemenakan ibuku. Aku tumbuh menjadi seorang lelaki yang tabah. Tentu saja oleh sebab terbiasa menikmati pahit dan getirnya kehidupan ini.

Pada masa remaja, selepas tamat dari bangku sekolah menengah pertama. Dimintanya aku lanjut bersekolah ke kampung sebelah. Sebab, di kampungku ini sangatlah terbelakang. Kendaraan untuk melanjutkan roda kehidupan sehari-hari pun tak dapat ditemukan. Maka disekolahkannya aku ke kampung Tabing Banda. Cukup jauh kiranya dari rumah kemenakan ibuku, akan tetapi dengan semangat yang sentiasa bergejolak oleh sebab impian besar yang ku pegang kuat-kuat, aku lewati jalan-jalan yang curam itu, menyebrangi sungai, naik turun gunung, melewati tebing-tebing yang tak tahu kapan kiranya runtuh menimpa tubuhku. Terasa penat memang, tapi aku merasa di situlah nikmat perjuangan yang sesungguhnya

Pada suatu hari, terjadi peristiwa besar dalam hidupku. Hari itu tidak akan pernah aku biarkan hilang dari ingatanku. Hari itu, sekolah kami baru saja menerima seorang murid baru, gadis yang senyumnya teramat manis. Namanya adalah Yasmin. Dia baru saja berpindah daripada rumah ayahnya di negeri Jawa ke tanah ini sebab urusan pekerjaan orang tuanya.

Ayahnya adalah saudagar yang kaya raya. Rumahnya bertingkat-tingkat. Jongosnya pun hingga 10 orang yang merawat segala sesuatu di rumah itu. Namun, Yasmin adalah anak perempuan yang pemalu. Ditutupnya wajah manisnya itu dengan selendang putih yang tipis berhiaskan motif bunga berwarna warni. Bagiku, tidaklah itu memberi pengaruh kepadaku selain menambah keanggunan paras jiwanya.  Sehingga mengalir udara sejuk yang bergegas membius seisi relung hatiku. Aku tak tahu, perasaan macam apakah ini? Dibuatnya aku terbang, melayang, menuju lautan kasih sayang. Sepertinya, aku tengah jatuh hati kepadanya. Oh.. Yasmin! Si anak saudagar kaya... (Bersambung).

28 September, 2022

Cermin - Dekat

An: "Iq, hidup kok gini-gini amat ya? Sumpek banget rasanya. Masalah kayak ada di mana-mana, nggak ada selesainya".

Iq: "Ohh.. Itu mah karena kamu kurang deket, An".

An: "Hah, maksudnya?".

Iq: "Ya, lagi jauh aja kamu, An".

An: "Asli, ngga paham".

Iq: "Gini An, dengerin baik-baik ya. Bayangin kita ada di suatu malam yang saangat dingin, trus kita deket nih sama api, kita bakal ngerasa hangat kan?". An mengangguk-angguk.

"Atau kita deket nih sama angin, kita bakal ngerasa dingin kan?". An menganggukkan lagi kepalanya. 

"Nah, terus gini, An. Bayangin kalo kita lagi ada di suatu tempat yang gelap terus kita deket nih sama cahaya, apa yang bakal kita rasain?". "Terang dong, ngga ngerasa gelap lagi". 
"Nah betul. Tapi, sekarang gini, An. Gimana kalo kita deketnya sama Allah?". An terdiam. Ia termenung, berpikir sambil memegang kepalanya.

An: "Aaa.. Kalo kita deket sama Allah, pasti kita bakal ngerasa tenang. Karena kita tahu kalau Allah itu Maha Memberi Ketenangan".

Iq: "Seratus buat kamu, An. Apalagi kita juga tahu kan kalau Allah itu Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Dekat dan Maha Mencukupi hamba-hambanya. Bahkan Dia lebih dekat daripada urat-urat nadi kita".

An: "Bener sih yang kamu bilang, Iq. Cuman kenapa ya kadang-kadang kita yang malah menjauh?".

.....

Iq tersenyum. "Karena kita ngga cukup kenal, An".

27 September, 2022

Cermin - Sebungkus Pesan dari Altara

Selepas melahap empat bungkus nasi kucing plus sambal teri dan tempe goreng. Kami berbincang-bincang. Sembari memanaskan teh manis dan membersihkan piring, ibu itu berpesan.

"Dek, yang semangat ya belajarnya. Biar jadi orang sukses, bisa nyenengke orang tua", saut ibu itu.

"Nggih, Bu. Aamiin. Mohon doanya".

Ibu itu menambahkan,

"Iya ibu doakan. Yang penting, hidup itu yang lurus-lurus saja lah, dek. Ngga usah neko-neko ikut-ikutan yang ngga bener. Kalau pikirannya lurus, hatinya lurus, perkataannya lurus, perbuatannya lurus, nanti hidup ini Allah yang urus, Insya Allah, ndak usah khawatir".

Kami mengangguk. Mata kami mulai memandang satu sama lain. Walau sepertinya, masing-masing tengah melihat ke dalam dirinya sendiri.

Pada akhirnya, kami sampai di ujung penantian---pulang. Sambil membawa sebungkus pesan berharga tentunya.

15 Juni, 2022

Cermin - Upil

"Udah lah, An. Ndak usah terlalu kamu pikirin. Mimpimu itu udah kayak upil".
"Lho kok kaya upil, maksudmu tu gimana, Iq?".
"Lho iya kaya upil. Begitu dekat tapi sulit untuk kamu raih".
"Heleh.. Bwodo amat, Iq".

13 Desember, 2021

Cermin - Laki-laki

"Kamu tahu, An? Laki-laki memang pandai mendustakan perasaannya. Dibuatnya hatinya menangis namun dibuatnya bibirnya tetap tersenyum".

15 November, 2021

Cerpen - Kelinci Pencuri

Pada liburan musim panas, Salma dan keluarganya pergi menuju rumah kakeknya di desa untuk berlibur. Mereka pergi bersama-sama menggunakan kereta api. Sesampainya di rumah kakek, Salma berjalan-jalan dan melihat-lihat kebun milik kakeknya itu. Ketika berada di salah satu kebun, Salma melihat seekor kelinci diam-diam mencuri sayuran di kebun kakeknya. Salma segera pulang dan memberitahu kejadian itu kepada kakeknya.

Setelah kakeknya sampai di kebun, kelinci itu terkejut kemudian lari dengan cepat menuju tempat persembunyiannya. Salma dan kakeknya berusaha mengejarnya lalu berhenti di sebuah lubang yang cukup tersembunyi. Mereka melihat ke dalam lubang itu dan mencari tahu keberadaannya. Alangkah terkejutnya mereka berdua ketika melihat tujuh ekor kelinci kecil yang lucu saling berpelukan satu sama lain. Ternyata, kelinci itu mencuri makanan demi untuk merawat dan membesarkan anak-anaknya.

Dari peristiwa itu, sang kakek berkata kepada Salma,

"Cucuku, kamu sudah melihatnya bukan? Sekali-kali kita tidak boleh melihat orang lain hanya dari apa yang kita lihat saja, karena kita tidak tahu secara pasti bagaimana keadaan mereka sebenarnya".

14 November, 2021

Cermin - Reuni

Melihat dandananku yg mecing, dengan kemeja coklatnya yang gagah dan sepatu boot-nya yang kebesaran, ibuku tersenyum, "Mau ketemuan nih ye?". Aku hanya tersenyum malu lalu pamit meninggalkan ibuku. Aku membonceng motor teman SMA-ku yang dulu satu SMP denganku. Haha, terkadang hidup ini memang perlu ditertawakan.


Cermin - Tangisan Perempuan

"An, kamu tahu kenapa Allah menjadikan perempuan sering menangis?".
"Ngga tau, Iq. Memangnya kenapa?".
"Karena Allah ingin laki-laki melupakan tangisannya sendiri".

2021

Cermin - Nasihat

Seseorang bertanya kepadaku, soal bagaimana caranya memanfaatkan waktu di masa pandemi seperti ini. Aku pun membacanya malas dan seketika menjawab: "Kita bisa mengatur jadwal kemudian komitmen dan disiplin dengan jadwal yang sudah kita buat, atau memperbaiki ibadah-ibadah kita, tidak menunda-nunda pekerjaan, mengurangi makan, tidur, dan bicara yang tidak perlu, juga membantu pekerjaan orang tua kita di rumah".
.....................
Setelah itu, aku tersadar.
Aku sedang menasihati diriku sendiri.

2020

08 November, 2021

Cerpen - Hikayat Seorang Anak Lelaki

Di suatu sore menjelang malam, seorang anak lelaki duduk di bawah pohon plum di sudut taman kota Anatolia. Dia duduk seorang diri di sana. Hatinya tengah bersedih memikirkan permasalahan-permasalahan yang menimpa dirinya. Dia bertanya-tanya bagaimana caranya dia dapat keluar dari permasalahan-permasalahannya itu.

Ketika itu, lalu lintas di sana sedang sangat ramai. Suara bising keluar dari kendaraan-kendaraan umum. Mobil-mobil berlalu-lalang. Trem-trem merah berhamburan di tengah jalan. Pesawat dan kereta bawah tanah pun tak henti silih berganti. Namun, anak lelaki itu tidak mempedulikannya. Dia mengeluarkan buku catatan dari dalam tasnya lalu menulis apapun yang muncul di kepalanya.

Tiba-tiba, dia merasa ada seseorang yang mengajaknya berbicara. Dia merasa takut lalu bersembunyi di bawah bangku taman yang sempit. Dia mendengar lagi suara yang memanggil-manggil namanya, "Yusuf! Yusuf!". Anak lelaki itu semakin ketakutan.

Tak lama setelah itu, seorang lelaki tua berjubah putih lagi berwajah tampan datang menghampirinya. Lelaki tua itu memiliki wajah yang berseri-seri. Dia menepuk punggung Yusuf seraya berkata,

"Yusuf! Kemarilah! Janganlah kamu takut!".

Mendengar seruannnya, Yusuf memberanikan diri keluar lalu berkata,

"Siapakah anda, Tuan?".

Lelaki tua itu tersenyum,

"Engkau tidak perlu tahu siapa aku. Tujuanku adalah untuk menemuimu dan memberikanmu hadiah".

"Hadiah? Hadiah apa?", Yusuf merasa penasaran.

"Ambillah hadiah ini, Yusuf!".

Dengan penuh ketakutan, Yusuf pun perlahan mendekatinya lalu mengambil hadiah itu. Dia menepi ke samping semak-semak dan membuka hadiah itu perlahan-lahan. Sampai ketika dia berhasil membukanya, dia merasa sangat terkejut. Dia melihat sepasang tangan manusia terbungkus rapih di dalamnya. Seketika itu dia berteriak lalu melempar kotak itu. Dia lantas bertanya,

"Apakah maksud anda, Tuan?".

"Itu adalah jawaban dari pertanyaan-pertanayaanmu!".

Yusuf masih bertanya-tanya.

"Saya tidak mengerti".

Lelaki tua itu tersenyum. Dia mendekati Yusuf, memegang pundaknya lalu berkata,

"Yusuf, ini adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu. Tidakkah kamu ingat ketika kamu bersedih, kamu bertanya-tanya bagaimana caranya keluar dari permasalahan yang tengah menimpamu? Inilah jawaban dari pertanyaanmu itu, Yusuf. Jawabannya ada di kedua tanganmu! Berdoalah dan berusahalah dengan keduanya! Bukankah Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum jika kaum itu tidak mau berusaha mengubah dirinya sendiri? Lihatlah ke dalam dirimu maka kamu akan menemukan jawabannya!".

Mendengar perkataan itu, Yusuf hanya bisa terdiam lalu berpikir sejenak. Namun, tiba-tiba saja…. Gubrakkkk. Yusuf terjatuh. Tubuhnya tersungkur ke dalam semak belukar di sekitar tempat duduknya. Sepotong buah plum yang sangat besar terjatuh dari pohon kemudian menimpa kepalanya. Anak lelaki itu ternyata sedang bermimpi. Akan tetapi, dari mimpinya itu, dia mendapat pelajaran bahwa jawaban dari pertanyaannya, ada di balik kedua tangannya.

Büyük hedef imandandır. (Cita-cita yang besar adalah sebagian daripada keimanan).

Sat, Dec 05th, 2020.


07 November, 2021

Cermin - Pelukannya

"An, aku merasa malu.
Ternyata pelukanNya terlalu kuat.
Sampai-sampai meremukkan tulang-tulang kesombonganku".

05 November, 2021

Cermin - Al Habîb

“An, kamu masih ingat perkataannya?",
"Yang mana, Iq?",
"Itu loh, An. Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai",
"Ya, aku masih ingat",
"Siapa yang kamu cintai, An?",
"Tidak ada",
"Sungguh, An? Apa kamu lebih memilih hilang bersama ketiadaan?",
"Entahlah, Iq. Aku merasa perasaan ini belum cukup pantas untuk sekedar dinamakan cinta".


02 November, 2021

Cermin - Ridha Manusia

Segera kakek terduduk di atas kursi kayu tua, tubuhnya yang semakin lemah menambah hening suasana waktu itu. Ia berpesan kepadaku dengan suaranya yang kian melirih. Aku pun menatapi raut wajahnya tajam-tajam.
"Nak, dengarlah baik-baik nasihat kakek. Kakek sudah kenyang merasakan pahit manisnya hidup di dunia ini".
“Baik, kek", Aku mengangguk.
"Nak, ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai. Sebaik apapun perbuatanmu atau seburuk apapun perbuatanmu tidak akan pernah membuat seluruh manusia ridha ataupun murka kepadamu. Selama-lamanya. Maka dari itu anakku, berbuatlah sebaik-baik yang kamu mampu asalkan itu membawa maslahat bagimu dan orang-orang yang kamu cintai. Ingatlah baik-baik, nak. Satu-satunya tujuan yang dapat kamu capai hanyalah menjemput ridha Allah. Jika itu bisa kamu dapatkan, maka ridha manusia sebanyak apapun itu tidak akan ada artinya lagi bagimu".
"Lalu, bagaimana caranya menjemput ridha Allah, kek?", tanyaku.
"Sederhana saja, nak. Berbaktilah kepada kedua orang tuamu!".
Seketika itu. Aku menarik nafasku dalam-dalam. Merunduk meratapi lantai yang sedikit usang. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku teringat kembali perbuatan burukku kepada kedua orang tuaku.