Semakin sederhana kita mendefinisikan bahagia, semakin mudah kita mendapatkannya. Semakin rumit kita mendefinisikan bahagia, semakin jauh kebahagiaan itu kita dapatkan.
Konsep minimalisme sebenarnya tidak hanya berlaku pada hal-hal yang bersifat materil saja. Lebih dari itu, hal-hal yang bersifat imateril pun bisa kita terapkan. Beberapa diantaranya ialah dengan menyederhanakan mindset kita tentang bahagia, merasa cukup dengan yang kita punya, membuang keinginan-keinginan yang 'menjerat', dan menunda kesenangan-kesenangan sementara yang sebenarnya kita tahu bahwa hakikatnya kesenangan itu bersifat semu. Ketika kita bisa melakukan itu semua, maka kebahagiaan lahir batin akan jauh lebih mudah untuk kita dapatkan.
Sungguh merugi, ketika kita mensyaratkan kebahagiaan dengan keinginan pada hal-hal yang sulit kita dapatkan. Kita baru merasa bahagia ketika keinginan-keinginan kita semuanya terpenuhi. Kita ingin mempunyai karier yang melejit, mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang lain, memiliki barang-barang mewah, dsb. Padahal sebenarnya jika kita sadari betul-betul, kita tidak benar-benar membutuhkan itu semua. Kita sadar bahwa bahagia itu murah dan mudah tapi terkadang keinginan kita-lah yang membuatnya menjadi susah.
Tapi, tunggu dulu! Bukan berarti kita hanya bermalas-malasan. Tidak! Justru sebaliknya. Kita sebagai umat muslim harus memiliki cita-cita dan harapan yang tinggi.
Salah satu perkataan ustaz saya, "büyük hedef imandandır", cita-cita yang tinggi adalah sebagian daripada iman. Mengapa? Sebab ketika kita mempunyai cita-cita dan harapan yang tinggi kemudian kita yakin sepenuhnya bahwa Allah SWT Maha Mampu Mewujudkannya, maka hal itu sebagian daripada keimanan. Tentunya, cita-cita tersebut harus diikuti dengan ikhtiar walaupun minimal. Kemudian, kita harus berusaha untuk konsisten menjalankannya. Tidak penting seberapa cepat kita berjalan, yang terpenting adalah kita tidak pernah berhenti melakukannya.
"Just set some little goals and just move very very slow". - Ali Banat (رحمه الله). + rest early and living a fruitful life - Fooann Alexander
0 comments:
Posting Komentar