Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

04 Oktober, 2025

Puisi - Bertemu denganmu

Musim mulai berlari,
mewanti dari kejaran sepi
ia menari-nari
menembus sadar tuk menepi.

Roda jalan bepergian
membopong orang-orang
kabur dari pelarian
badai penantian.

Pelukmu yang sempat hangat
memaksa amigdala,
merasuk ke alam syaraf
menyeduh senyummu yang pekat.

Meski di alam mimpi,
aku ingin kau percaya,
semalam yang ku rasa
terasa begitu nyata.

— Fall in Istanbul
Rabu, 1.10.2025

18 Februari, 2024

Puisi - Lembayung Tiba


Rintik air.
Beramai-ramai.
Menyapa mendung kekuning-kuningan.

Menjelang lembayung tiba.
Langit berganti.
Menepi, gelap menanti.

Hiraukan rasa mereka.
Juga diriku, yang mulai pudar.
Oleh bintik cahaya berarti.

Februari, 2024.

23 Januari, 2024

Puisi - Angan-Angan


Dalam kenangan,
engkau ku angan.
Di dalam angan,
kau kesenangan.

Dalam bayangan,
aku berangan,
kau kesayangan.

Hujan kenangan,
dalam genangan,
di ketenangan.

Di ujung angan,
dalam simpangan,
nan beterbangan,
kenang-kenangan.

(2018).

05 Juli, 2023

Puisi - Menjelang Terbenam


Mengeja rindu
Di tepian senja
Ombak di musim panas
Merajut bayang-bayang lukisan
Mentari, bertaut awan
Menuntun cahaya..
Menunju penantian malam

Tepat waktu itu
Perlahan, bayangmu terbenam
Di ufuk samudera
Lilin-lilin fana
Mengejar intuisi
Bersama rembulan
Bernaung dalam memori

Wajahku memerah
Jalanan nampak lelah
Terdengar bisikan syahdu
Desiran suara hatimu

Tarihi Asansör, İzmir.
Haziran 2023.

08 Mei, 2023

Puisi - Dalam Untaian Rindu

Hujan turun dengan lembutnya
Di malam sunyi tiada hentinya
Aku rindu bayangmu bersemi
Saat hati terbuai desiran sepi

Selalu ku ingat senyumanmu yang indah
Lukisan fajar, hiasan langit pengusir gundah
Engkau lah bidadari bermata jeli
Yang ku syukuri kini dan waktu nanti

Hati ini bergemuruh oleh sebab rindumu
Seiring derasnya hujan saat-saat kelabu
Namun, ku tahu bayangmu s'lalu di sini
Menemani dan memberi damai sanubari

Ku pejamkan mata lalu ku hirup riuh udara
Berhembus masuk ia ke dalam rongga suara
Nafasku terpana melihat butiran cahyamu
Menyinari gelapnya relung-relung hatiku

Demikianlah ku gores rinduku ini
Dalam ikatan berbalut restu ilahi
Tak koyak ianya oleh bisikan semu
Tak pula usang oleh jeritan waktu

Saat nanti kita bertemu kembali
Di bawah naungan cintaNya abadi
Kan kita lihat cahya kasih tiada terkira
Hidup bersama dalam bahagia sejati

8 Mei 2023.
Dibuat dengan bantuan AI (dengan penyesuaian).

01 April, 2023

Puisi - Siapakah namamu?

Aku hanya perlu duduk
Mengencani langit
Membiarkan kuduk
Berdiri menggigit

Saraf-saraf berbenturan
Kulit-kulit berguguran
Terkikis pedih
Oleh bayang-bayang
Terbang melayang

Sebenarnya,
Yang diingin sederhana
Yang pasti,
Tak mesti sempurna
Tak mutlak rupanya

Berbekal kasih sayang
Bertaut Sang Penyayang
Menjelma bulan
Lampu jalanan

Berdenyut angin senyap
Bertiup dalam gelap
Diaspora malam
Di musim yang peram

Sayup-sayup delusi
Desiran rusuk sebelah kiri
Batinku tergugah
Oleh dia..
Yang termaktub, dalam gundah

Biar ku lirik..
Bait-bait kepastian segala sesuatu
Kan ku sebut-sebut namaNya
Rahsia pasal belahan jiwa

Namun, apalah daya
Tak kunjung kutemukan!
Atau.. dia yang temukan?
Aku termenung..

Siapakah namamu?
Aku ingin bertemu.

Ciputat, 10 Ramadan 1444
31 Maret 2023

30 Maret, 2023

Puisi - Angan-angan

Dalam kenangan
Engkau ku angan
Di dalam angan
Engkau kenangan

Saat genangan
Aku berangan
Dalam kayangan
Hujan kenangan

Ada bayangan
Sejuk diangan
Kau kesayangan
Kenang-kenangan

2021

13 Maret, 2023

Puisi - Rintik-Rintik di Balik Jendela

Memang benar hujan itu anugerah.
Aromanya manis tepikan gundah.
Rintiknya teduh bergelimang resah.
Sebabnya air bercampur tanah.

Oleh sebab itu, aku bersaksi.
Bersama angin di malam ini.
Karenanya aku diizinkan lagi.
Duduk bersandar mengingatmu kembali.

25 Januari 2023.

11 Oktober, 2022

Puisi - Harap

Lihatlah..
Langit malam begitu mempesona
Raut wajahmu, kerlingan matamu
Mengendap dalam syaraf ingatanku

Malam ini, udara terasa lembut
Memeluk luka yang masih basah
Seperti rindu..
Menanti temu di ujung resah

Lantas, ku palingkan ke ujung angkasa
Bimasakti, Andromeda, bintang-bintang ikut menggoda
Memaksaku untuk menikmati
Meski pahit dalam sanubari

Seketika.. gugur seuntai harapan
Tenggelam ia di sudut pelataran
Tersapu oleh debu perjalanan
Terbang.. terbang tak bertujuan

Jujur saja, aku akui
Engkau yang pantas dimiliki hati
Walaupun satu yang buatku pilu
Pantaskah aku ditakdirkan untukmu?

Karangasem, 11 Oktober 2022. 10.19 malam.


13 September, 2022

Puisi - Aku Tertidur

Aku tertidur
Dalam keramaian yang fana
Terlentang dalam kenang
Wewangian pukul lima

Dinginnya, menggerogoti saraf
Hilang kian kesadaran
Terlelap di dalam mimpi
Yang bukan sembarang mimpi

Ku peluk sekujur tubuhku
Lalu tenggelam
Dalam samudera hayal
Dalam.. kian mendalam

Kulalui sebait puisi
Yang mengantarku
Menuju puing-puing
Perjalanan semu

Bilakah ia masanya
Aku masih terjaga
Dari untaian kisah
Mimpi-mimpi ini?

11 Juni 2022, 05.15.

15 Juni, 2022

Puisi - Hujan

Hujan.
Kulihat putih tudungnya.
Berbekal sebait rindu,
ku menawar teduhnya.
Tubuhku menghangat.
Jalanan masih sepi.
Aku memutar kepalaku.
Tanganku mendingin.
Lebih tepatnya bergetar.
"Lancang!", aku urungkan.
Kakiku mengumpat.
Menuju ke lain tempat.
Penyesalan.
Aku membeku.

2021

14 Juni, 2022

Puisi - Diam

Hadirmu diam
Langkahmu diam
Tatapanmu diam
Suaramu diam
Senyumanmu diam
Pesonamu diam
Diam-diam..
Kau mendiami hatiku.

Juni 2022.

13 Juni, 2022

Puisi - Purnama Bersembunyi

Malam ini, malam lima belas
Purnama bersembunyi
Menutup diri dari tatapan matamu
Sang bintang bersikeras melawan
Menebas pundi-pundi kerinduan
Terperosok ke dalam relung
Jiwa-jiwaku
Sejenak.. aku berjalan
Tertawan seutas ikatan
Melenggak ke atap
Seribu karung harap
Namamu memang slalu ku temukan
Di antara ruang sempit sanubariku
Entah sampai kapan
Ia mengendap
Mungkin sampai jiwa
Kembali menghadap

Malam 15, Zulqaidah 1443

06 Juni, 2022

Puisi - Nazam Fadilah Seorang Guru

 

توليسن جاوي

نظم فضيله سأورڠ ڬورو - ولدان شفيق

 

بسم الله الرحمان الرحيم

ڤوجي شكور كهدرت الهي # أتس رحمة دان هدايه تق هنتي

صلوات دان سلام سنانتياسا # كأتس رسول ڤيليهن اوتام

ڤد بيت إين همبا سمڤأيكن # فضيله ڬورو تياد ترڬنتيكن

دڠن بحر رجز كامي سمبهكن # باڬاي ڬاريس بينتڠ أمت مناون

ايلوكله نامڽ بق سڠ ڤمبري # كأتس ڤتونجوق باڬاي منتاري

ستيتس امبون دي وقتو داهڬ # سامودرا لواس تق أيل اوجوڠڽ

ملڬاكن هاوس كين ممبارا # أتس علمو اڬام يڠ مليا

بهاس عرب له اڠكاو أجركن # منجادي لمبوت هاتي برهياسكن

ڤرمات هاتي كبيجقسنأن # چهاي بنديراڠ يڠ مڠهاڠتكن

بركاتله انسان دي ماس لالو # بلاجرله لغت اوسه كاو مالو

مورفولوڬي سينتكسيس دان ڤونيتيق # بڬيتوڤون فونولوڬي سمنتيق

خط، إنشاء، قرض الشعر دان قوافي # تق لوڤا بلاغة، عروض، معاني

ڤلاجري تق ڤرلو كاو مڠلوه # سبب ڬنجرن باڬي يڠ برڤلوه

جك هندق كاو امبيل سورڠ ڬورو # مستي إي دڬوڬو لن دتيرو

ڤراڠايڽ تيڠڬي باڬاي رمبولن # برسينرڽ تدوه تق مڽيلاوكن

دمكينله اوڠكاڤنكو إين # فضيلة ڬورو كيت ڤلاجري

دي أخير بيت إين كو ڤسانكن # كڤدامو جاڠنله كاو تيڠڬلكن

تونتوتله إي جاڠن كاو برڤاليڠ # سمڤورناڽ علموله يڠ ترڤنتيڠ

جك ڤدڽ كاو تله برڤڬڠ # أتس دنيا دان هاري كن داتڠ

تياد ساتوڤون يڠ كن منچلا # هيڠڬ كيت كمبالي كڤداڽ


Nazam Fadilah Seorang Guru

Bismillāhirraḥmānirraḥīmi.

Puji syukur kehadirat Ilahi # Atas rahmat dan hidayah tak henti

Selawat dan salam senantiasa # ke atas Rasul pilihan utama

Pada bait ini hamba sampaikan # Fadilah guru tiada tergantikan

Dengan bahar rajaz kami sembahkan # Bagai garis bintang amat menawan

Eloklah namanya bak sang pemberi # Ke atas petunjuk bagai mentari

Setetes embun di waktu dahaga # Samudera luas tak ayal ujungnya

Melegakan haus kian membara # Atas ilmu agama yang mulia

Bahasa Arab lah engkau ajarkan  # Menjadi lembut hati berhiaskan

Permata hati kebijaksanaan # Cahaya benderang yang menghangatkan

Berkatalah insan di masa lalu # Belajarlah lugat usah kau malu

Morfologi Sintaksis dan Fonetik # Begitupun Fonologi Semantik

Khat, Insya', Qardhusyi'ri dan Qawafy # Tak lupa Balaghah, ʼArudh, Maʼany

Pelajari tak perlu kau mengeluh # Sebab ganjaran bagi yang berpeluh

Jika hendak kau ambil sorang guru # Mestinya ia digugu lan ditiru

Perangainya tinggi bagai rembulan # Bersinarnya teduh tak menyilaukan

Demikianlah ungkapanku ini # Fadhilah guru kita pelajari

Di akhir bait ini ku pesankan # Kepadamu janganlah kau tinggalkan

Tuntutlah ia jangan kau berpaling # Sempurnanya ilmulah yang terpenting

Jika padanya kau telah berpegang # Atas dunia dan hari kan datang

Tiada satupun yang ʼkan mencela # Hingga kita kembali kepadaNya


03 Juni 2021, Jumat


24 Mei, 2022

Puisi - Kecewa

Petang ini, aku terduduk di pelataran
Menyandarkan kepala yang berat
Melazimkan sebait bacaan
Mendaras kalam mengharapkan obat
Mentari terlihat begitu anggun
Dengan latar kemerahan
Berhias embun bak beterbangan
Angin berlari dari utara
Mengalir begitu saja
Memeluk erat sendi-sendi
Tulang rusuk sebelah kiri
Rasanya.. ini sama saja ya?
Seperti waktu itu..
Kala kudekap langit kekuningan
Bersama teman, bersama kawan
Menuju harap, yang kadung mengendap
Hujan deras, di tepian gelap mata
Nyatanya, tiada berguna
Kecewaku ini teramat dalam
Hingga jauh menusuk
Ruang-ruang yang dulu terisi
Oleh hiasan mimpi-mimpi
Ingin rasanya berbalik
Untuk sekedar menjadi baik
Namun, masihkah ada harapan?
Atau sekedar kesempatan
Bagi orang yang nyaris mati
Sebab tertusuk tangannya sendiri

Sunday, May 22th 2022
17.29, di pelataran sebelah utara.

08 Mei, 2022

Puisi - Aku Ini Siapa?

Awan-awan berkedjaran
Langit turun perlahan-lahan
Burung meraung
Lukisan agung!
Tuan pun tersandjung

Tjahaya itu pula terlihat
Nampak sekedjap semakin pekat
Melebur gelap makin memikat
Engkau nikmati sambil bersandar
Di atas kursi biru tak bundar

Lantas bertambat di dasar hati
Satu mozaik dalam memori
Angin berhembus kian menusuk
Mendekap tubuh lalu membusuk
Hingga tertjium aroma pilu
Aku ini siapa?

Seorang asing
Di tanah terasing
Kakekku tak tinggal di sini
Rumahku tak pula kutemui

Memanglah benar ia adanja
Engkau terkurung dalam dendanja
Seperti hidup si pengembara
Merindu negeri, tak nampak udjungnja

8 Mei 2022

27 April, 2022

Puisi - Embun di Ujung Dedaunan

Rintik-rintik terjatuh
Bercampur tanah, ia berteduh
Riuh rindang pepohonan
Damai.. nikmat kian dipandang
Sayup-sayup nyanyian burung
Memudarkan pilu
Seperti embun memeluk dahan
Ia berkisah dukanya perlahan
Menggenggam sepi, di keramaian
Seseorang dengan lukanya
Tak kunjung ia keringnya
Seperti daun yang t'lah lelah
Menunduk, mengayunkan jerih
Menggugurkan benih, kian menjernih
Hati yang sempit, jauh dari Tuhannya
Demikian bukan?
Orang-orang berlalu lalang
Seseorang menangis malang
Menanti jawaban atas dirinya
Terus menerus, tiada terputus
Seorang datang, seorang pergi
Seorang pulang, seorang kembali
Biar sajalah, hidup berjalan semestinya!
Sebab kau ini hanyalah air
Terjatuh dari tempat yang tinggi
Lalu mengalir ke penampungan
Penampungan yang mana?
Bukankah engkau mengetahuinya!
Toh, kita semua sama saja
Ujungnya naik ke ufuk jua
Terbang..
Mengitari ayunan sepi
Mengharap belas Hyang Widi
Bukankah ketika langit menangis
Seketika bumi tanamkan kembang melatinya?
Bukankah ketika bayi menangis
Pertanda ibu 'kan lekas menyusuinya?
Menangislah!
Usahlah engkau malu-malu!
Sebab, menangis pula Kekasihku
Biarkan saja..
Seikat bunga bertunas
Disekitar garis bibirmu
Menjelma hati yang lapang
Sejuk jikalau ia dipandang
Tapi, jangan coba engkau resapi
Dalam-dalam ucapku ini
Sebab khawatirnya,
Makin tenggelam engkau akhirnya!

Jogja, 21 April 2022

Puisi - Bahasa Alam

Bahasa alam
Merasuk dalam
Relung-relung jiwa ini
Denganmu, aku ada
Tanpamu, semua tak ada
Apa jadinya, jika engkau tak diciptakan
Sebab, engkaulah alasan penciptaan
Kiranya masuk ke dalam
Diri setiap pilu
Niscaya sirna huru-hara
Oleh angin yang berhembus
Dari ruang yang fana
Membawa secangkir cahaya
Nikmat nian akhirnya
Ingin kiranya ku jadikan kau
Sebagai qarin yang teramat dekat
Lebih-lebih daripada nadi
Sehingga mampu ku hembuskan
Pada hati setiap insan
Senang sekali mendengarnya
Saat kita mengetahuinya
Walau hanya bisikan lirih
Namun buat semakin jernih

Jogja, 27 April 2022.


25 April, 2022

Puisi - Perempuan di Balik Dagangan

Perempuan di balik dagangan itu
Menyihir seisi relung jiwaku
Dengan tongkat anggun di hatinya
Dibuatnya dadaku berbunga-bunga
Perempuan memang paling pandai
Dalam pertunjukan semisal ini
Pada ujungnya, ku tanggalkan sebait doa
Ia mengaminkannya.

25 April 2022 / 23 Ramadan 1443


22 Februari, 2022

Puisi - Kangen

Bulan gemintang
Malam benderang
Sejuk nian sanubari
Diliputi seuntai puisi,
tiada terhenti..

Nikmat.. hati merasa
Dalam peluk kian mesra
Kasih sayangnya
Tak pandai, aku
Menafikannya

2.22.2022