أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
قَـٰلَ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِینَ
قَالُوا۟ لَبِثۡنَا یَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ یَوۡمࣲ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَاۤدِّینَ
قَـٰلَ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِیلࣰاۖ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
(Al-Mu'minun, ayat 111-113).
*Ayat tersebut kurang lebih bercerita mengenai penghuni surga yang merasa bahwa hidup mereka di dunia terasa hanya sekejap saja. Silahkan temukan sendiri makna ataupun tafsir dari ayat tersebut.
Setelah membaca berulang-ulang sembari merenungi ayat tersebut, saya pun ikut merasa bahwa hidup ini rasa-rasanya memang benar-benar hanya sebentar saja. Mungkin setengah hari pun, sepertinya tidak sampai. Hanya seperti suatu masa ketika kita memasuki waktu pagi, kemudian tak terasa tiba-tiba kita sudah berada di sore hari, sebentaaar sekali.
Dari itu, saya coba mengingat bagaimana masa-masa kecil kita, masa-masa yang penuh kenangan. Banyak hal yang telah kita pelajari, bersama keluarga, teman-teman kecil kita, kemudian tiba-tiba tak terasa kita sudah beranjak remaja. Maka, mulailah masa-masa yang indah ketika di sekolah, SD, SMP kemudian SMA, sampai ke perguruan tinggi. Terus berlalu seperti itu, hingga kita bertumbuh seperti saat ini.
Perhatikanlah, betapa singkatnya waktu-waktu itu, masa-masa yang telah berlalu. Dari masa-masa itu, kita tahu, banyak sekali hal-hal yang ingin kita perbaiki. Seandainya bisa kembali ke masa lalu, tentulah kita akan berusaha menjadikan setiap detik menjadi jauh lebih baik.
Namun, tinta telah kering dan pena telah diangkat. Segala ketentuan sudah terlanjur ditetapkan. Bahkan sekian ribu tahun sebelum kita diciptakan. Tugas kita hanyalah berusaha untuk senantiasa ridha dan menerima segala ketentuan itu. Dan menjadikan kesalahan-kesalahan yang lalu sebagai pelajaran bagi masa-masa yang akan mendatang.
Saya berharap, mudah-mudahan Allah SWT menjadikan takdir yang baik dalam setiap nafas hidup ini. Hingga ujung nafas terakhir kita. Sehingga kita bisa berkumpul kembali, berkumpul di tempat yang jauh lebih baik dari tempat kita berkumpul saat ini. Tentu dengan keadaan yang jauh lebih baik. Dengan hati yang ridha, dengan hati yang ikhlas, dengan hati yang penuh kebahagiaan. Tiada lagi kesedihan, tiada pula penyesalan. Insya Allah.
Mudah-mudahan Allah selalu meridhai, Âmîn.
0 comments:
Posting Komentar