Namaku Wildan. Aku menyelesaikan tulisan ini di usia 21 tahun lebih 3 bulan. Dimulai di tanah kelahiran, selesai di negeri perantauan. Negeri yang mencuri hati setiap orang yang kadung menapakkan kaki di permukaannya. Sejatinya, tulisan ini aku persembahkan khusus untuk dirinya. Sebagai suatu tanda bahwasanya dahulu pernah hidup seseorang bernama dia di tengah-tengah kota yang masyhur dengan kerendahan hatinya.
Cerita ini dimulai pada akhir bulan Februari 2020. Aku masih ingat kejadian itu. Awal mula pandemi memperkenalkan dirinya. Ketika itu, ramai berita di berbagai media menggambarkan sekumpulan manusia yang mati ketakutan. Seolah menunggu giliran kemudian memperingatkan kepada dunia bahwa hidup ini dapat berakhir kapan saja. Aku merasa gelisah ketika itu. Gelisah yang sebenar-benarnya. Aku merasa khawatir kalau-kalau menjadi bagian kecil dari episode menyeramkan ini.
Beberapa waktu setelah itu, aku memberanikan diri melawan semua ketakutanku. Aku pun memeriksakan diri ke salah satu instansi kesehatan. Tapi kedatanganku justru membawaku masuk lebih dalam menuju perasaan penuh ketakutan. Aku mengalami gejala-gejala yang biasa diberitakan oleh media. Saat itu juga, orang tuaku merasa sangat khawatir lalu menelpon dan memintaku agar segera kembali ke pangkuannya. Aku mengiyakannya.
Ketika sampai di rumah, keadaan di sana terasa sangat jauh berbeda. Aku tak sekhawatir ketika itu, ketika aku masih berada di perantauan. Mungkin karena kampung halamanku tidak banyak dikunjungi oleh orang-orang, aku pun merasa aman dan akan baik-baik saja. Walau begitu, aku tetap berusaha menjaga diri agar aman dari ancaman wabah ini.
Setelah cukup lama berdiam di kampung halaman, tanpa permisi, tiba-tiba wabah kedua kembali berdatangan. Wabah ini sangat mengerikan. Bukan wabah yang membunuh ratusan ribu manusia. Tapi wabah yang belakangan ini menghantui pikiran kebanyakan dari manusia. Ya, krisis kesehatan mental.
Dalam tulisan ini, aku akan sedikit mengangkat sesuatu yang mungkin tidak banyak dibahas di dalam buku ini.
Pada masa-masa awal keberadaanku di rumah, aku menemukan banyak kesalahan dalam diriku. Aku memiliki banyak masalah yang mengganggu perjalanan mimpi-mimpiku. Benarlah pepatah jawa, yen dipangku mati. Seseorang yang biasa diberikan kemudahan akan mati dan tidak dapat mengembangkan kemampuannya dengan maksimal. Seketika itu, aku kecewa kepada diriku sendiri.
Suatu ketika di sela-sela waktuku di rumah, aku menemukan sebuah kisah yang menarik dari siaran salah satu podcast yang aku tidak ingat lagi namanya.
Dikisahkan pada suatu zaman hidup lah seorang kakek yang arif dan bijaksana. Dia tinggal di puncak bukit yang cukup tinggi. Setiap hari dia selalu dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai kampung untuk meminta nasihatnya. Orang-orang pun merasa kagum atas kebijaksanaannya. Akan tetapi, hal ini membuat kaum pemuda di kampung-kampung itu merasa tidak senang kepadanya karena orang tua mereka seringkali memperlakukan mereka dengan perilaku yang tidak mereka sukai. Perlakuan itu merupakan akibat dari petuah-petuah yang diberikan si kakek kepada orang-orang tua mereka. Sayangnya, sebagai kaum pemuda yang mempunyai prinsip kebebasan di atas segalanya, mereka menolak nasihat-nasihat itu.
Pada suatu hari, para pemuda marah besar karena merasa banyak diatur oleh orang-orang tua mereka. Mereka pun menyusun rencana licik agar si kakek itu tidak lagi didatangi dan dimintai nasihatnya sehingga mereka tidak mendapatkan lagi perlakuan yang menjengkelkan dari orang-orang tua mereka. Akhirnya mereka menyusun rencana liciknya. Mereka meminta salah seorang dari mereka untuk membawa seekor burung lalu diletakkannya burung itu dibalik tangannya. Ketika mereka sampai di sana mereka akan bertanya kepada si kakek perihal barang apakah yang sedang mereka bawa. Jika kakek itu tidak mampu menjawabnya, mereka akan berteriak dan berkata, “Wahai semuanya, orang yang kalian sebut arif ini adalah seorang pendusta!”. Akan tetapi jika kakek itu mampu menjawabnya, mereka akan kembali bertanya, “Apakah burung ini hidup ataukah mati?”. Jika kakek itu menjawab mati maka akan dilepaskannya burung itu dari tangannya. Akan tetapi, jika kakek itu menjawab hidup maka akan digenggamnya burung itu sampai mati. Sehingga tidak ada kesempatan bagi si kakek untuk menjawabnya dengan benar.
Setelah semuanya dipersiapkan, mereka bersama-sama mendaki puncak bukit. Mereka membawa hasrat yang kuat untuk mempermalukan si kakek. Setelah sampai di rumah si kakek, mereka justru disambut dengan ucapan salam yang lembut dan menyejukkan hati. Akan tetapi mereka malah mengacuhkannya lalu segera bertanya kepadanya,
“Apakah yang sedang kami bawa?”, tanya mereka dengan cepat.
“Apakah maksud kalian wahai anak-anakku?”, jawab si kakek dengan lembut.
“Jawab saja! Apakah yang sedang kami bawa?”, ucap mereka dengan nada meninggi.
“Yang kalian bawa adalah seekor burung”, jawab si kakek.
“Anda benar! Lalu, apakah burung ini hidup ataukah mati?”.
“Apakah kalian benar-benar menginginkan jawabannya?”, tanya si kakek dengan tenang.
“Jawab saja! Apakah burung ini hidup ataukah mati?”, tanya mereka. Mendengar perkataan mereka, kakek itu pun hanya tersenyum lalu menjawab, “Jawabannya ada di tanganmu, wahai anak-anakku!”.
Mendengar kisah itu, aku mulai berpikir lalu berpikir kemudian berpikir dan akhirnya menemukan bahwa biang dari segala sumber masalah kita adalah keinginan-keinginan yang tak terpenuhi. Aku menyadari bahwa keinginan adalah sumber utama dari segala kekecewaan. Aku terlalu idealis terhadap diriku sendiri sehingga aku merasa tak mampu lagi untuk sekedar berterima kasih kepada diri sendiri. Padahal Allah telah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang membuat kita mempunyai keunikannya sendiri-sendiri.
Sudah terlalu hilir malam, apa hendak dikata lagi. Kita semua mafhum. Dua pandemi terlanjur memperkenalkan dirinya ke khalayak umum. Walau begitu, banyak sekali pintu-pintu hikmah yang mulai terbuka lewat perantara dua peristiwa ini.
Adapun dari pengalaman penulis, pintu utama dari pintu-pintu hikmah yang mulai terbuka adalah kesempatan merenungkan kembali tujuan hidup kita di muka bumi ini. Dari hasil perenungan itu, penulis menggambarkan manusia seperti sekumpulan cerita. Penuh dengan plot yang mengejutkan. Sayangnya, kita tidak pernah tahu, di halaman berapa kita saat ini dan seperti apa kisah yang akan kita temui di lembaran selanjutnya nanti. Satu hal yang kita tahu, “Bacalah ceritamu, lalu selesaikanlah!”. Kita percaya Sang Penulis akan menuliskan kisah-kisah mengejutkan yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Sebagai seorang manusia, kita juga harus mempunyai prinsip. Kita harus punya tujuan. Sebab — kata Habib Novel Alaydrus — hanya mereka yang memiliki tujuan yang berani melangkahkan kakinya. Untuk itu, tidak ada salahnya mulai bermimpi membangun masa depan yang lebih baik lagi. Bermimpi saja dahulu, Allah pasti mendengarkannya. Karena bagiku bermimpi adalah pekerjaan yang sangat mengasyikkan. Kita hanya perlu duduk manis sambil memandangi langit. Atau mendengar suara fana, terbang memutari isi kepala. Sekumpulan ingatan bernama kenang-kenangan.
Hidup ini tidaklah rumit begitupun tidak sesederhana apa yang kita bayangkan. Kita lah yang membuatnya rumit dengan menciptakan kekhawatiran-kekhawatiran di kepala kita. Nikmati sajalah masa-masa saat ini. Biarkan Sang Sutradara bekerja dan membuat kita takjub dengan skenarionya. Tapi jangan menikmatinya sendirian. Buatlah rencana. Perbanyaklah niat baik. Lalu lakukanlah niat-niat itu dengan hati yang tulus. Belajarlah untuk tidak munafik terhadap diri kita sendiri.
Di sisi lain, penulis juga mengamati bahwa siklus hidup manusia mirip seperti siklus hidup tanaman putri malu yang tumbuh di tepian jalan. Tumbuh, kuncup, mekar, semerbak, layu, lalu mati. Bayangkan setiap siklus hidup ini adalah sebuah titik. Lalu titik itu bertambah dan terus bertambah dan menjadi sangat banyak. Yang perlu kita lakukan adalah menghubungkan titik-titik itu menjadi suatu garis yang utuh. Sehingga terbentuklah pola-pola yang estetik dalam garis kehidupan ini.
Aku sadar bahwa aku adalah orang yang memiliki idealisme tinggi. Walaupun begitu, aku jauh lebih sadar bahwa ada begitu banyak kekurangan yang aku miliki. Menurutku, kekurangan itu seiring berjalannya waktu akan teratasi sedikit demi sedikit.
Dipenuhi sifat pengecut, pemalas, dan sembrono, bahkan tak berani menghadapkan wajahnya sendiri terkadang membuatku merasa rendah diri di hadapan manusia. Tapi, untung beribu untung, hamba memiliki Dia yang Maha Menjunjung. Mengangkat hamba-hambanya yang lemah dari lembah kedurjanaan menuju ujung angkasa tempat bernaungnya bintang tsurayya.
Pandemi mengajarkan kita untuk menikmati keadaan ini dengan lebih percaya diri. Melalui masa perenungan yang panjang. Dari sudut ke sudut pelataran rumah. Dari belakang pagar tembok balkon asrama. Cahaya senja. Dekapan angin. Nyanyian burung. Elemen-elemen itu mengaktifkan kembali indera-indera perasaanku ini. Akhirnya si melankolis pun mengerti dan menemukan kembali impian terbesar di dalam hidupnya; membahagiakan mamah, membahagiakan ayah, membahagiakan perempuan yang kelak akan merawat dan menemani anak-anaknya. Itu saja. Tidak kurang tidak lebih. Terdengar sederhana memang. Tapi percayalah, tugas ini sangatlah berat. Mudah-mudahan Yang Maha Mendengar menjawab ungkapan perasaan hatinya. Amin.
Sifat dasar manusia adalah pelupa. Sebagaimana asal katanya dalam bahasa Arab — nasiya, yansaa, nasyan, manusia (baca: saya) memang harus selalu diingatkan. Oleh karena itu, penulis berharap agar kiranya engkau sempatkan membaca kembali tulisan ini pada waktu-waktu yang lain.
Hidup ini adalah mimpi. Karenanya aku selalu berharap. Mudah-mudahan kelak Dia membangunkan kita dengan penuh kelembutan. Sampai kita dapat bertemu kembali dengan orang-orang yang kita cintai.
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Marilah kita bersama-sama memperbaiki apa yang bisa kita perbaiki. Sebisa apa yang bisa kita lakukan. Mulai dari menjaga diri sendiri lalu menjaga diri orang lain. Harapannya adalah kedua wabah ini dapat segera pamit meninggalkan kita dan meninggalkan orang-orang yang dekat dengan kita.
Akhirnya, puji dan syukur hanyalah untukNya. Selawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada kekasihNya. Salam dan syukur terucap kepada semua orang yang telah menggoreskan titik-titik cerita dalam kisah perjalanan hidup saya. Terakhir. Teruntuk kamu 2020, terima kasih atas pelajaran yang telah engkau berikan.
— — — — — — — — — — — — — Bionarasi — — — — — — — — — — — —
Wildan Syafiq, penikmat malam, pengagum senja. Lahir di Cilacap, 30 Juli 1999. Terkadang dipanggil Willy. Temukan saya di Instagram @wildansyafiq. “Ombak tidak akan pernah tenang, tapi kita bisa menikmatinya”.
x
0 comments:
Posting Komentar