04 November, 2021

Opini - Proses : Normal

Di usia yang pelan-pelan mulai mendewasa ini—ehm—saya mulai sering berpikir tentang hal-hal yang sepertinya cukup "fundamental" dalam kehidupan saya. Saya bahkan tidak tahu ingin menjadi apa dan tidak tahu apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini. Alhasil saya hanya mengikuti arus, hidup asal hidup kalau mati ya asal mati. Seringkali ketika scroll-scroll status teman-teman saya mikir, "Weh, koncoku kok keren-keren cah! Lah aku gimana ya? Kok gini-gini aja".

Begitulah yang seringkali aku lakukan, membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Teman-temanku ada yang sukses jualan melalang buana ke seluruh dunia, ada yang jadi da'i, ada yang dapet beasiswa luar negeri, ada yang udah ketemu pasangan sehidup sesurgawi, ada juga yang sekedar duduk manis di kamar sendiri tapi transferan automaticaly menghampiri. Memang ini bukan sekedar masalah duit, tapi maksudnya adalah bagaimana membuat diri ini menjadi bergerak setidaknya satu langkah setiap hari hingga dapat memberikan manfaat bagi yang lain—termasuk kucing, dan nggak diam saja gitu kayak patung polisi di perempatan Gramedia—yang orang Jogja pasti paham lah ya.

Saya tahu manusia itu diibaratkan seperti air, ketika dia mengalir maka dia akan jernih dan memberikan kehidupan bagi yang lain, ketika mandeg ya lama-lama jadi butek dan semakin butek. Ada sih kehidupan, tapi isinya parasit semua. Pernah suatu ketika aku iseng-iseng mendengarkan ceramah Habib Muhammad bin Anis Shahab—yang dari Malang itu loh. Beliau ditanya,

"Gimana sih caranya sabar?"
"Ya sabar!".
"Gimana sih caranya syukur?"
"Ya syukur!"

Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah "paksakan!". Kalau kata orang sunda, "Allahumma Paksakeun". Saya kasih contoh nih, misalnya saya pengen naik ke lantai 10 gedung Burj al-Khalifa, tapi saya punya kaki diem aja, ya selamanya saya ngga akan sampai. Kalaupun misalnya saya bisa naik lift, toh untuk naik lift saya juga kudu jalan, kudu buka pintunya, kudu masuk, kudu mencet tombol-tombolnya. Ngga bakalan ujug-ujug saya sampe di lantai 10 gedung itu, karena di dunia ini normalnya segala hal membutuhkan proses.

Nah, ini sebenernya cocok sama apa yang Allah SWT firmankan bahwa Innallaha Laa Yughayyiru Maa Biqaumin Hatta Yughayyiruu Maa Bi'anfusihim. Simpelnya gini, Allah ngga akan ngeubah keadaan kita kalau kitanya diem aja, ngga punya effort untuk ngeubah diri kita sendiri. Begitu juga kata guru-guru kita, al-Barakah fi al-Harakah. Keberkahan itu ada di dalam harakah. Mulai aja dulu— kata iklan Tokopedia. Cuman sayang beribu sayang, ngelakuinnya susah bener sodara-sodara. Asli dah beneran! Hehe, mungkin ada yang punya ide? Silahkan bisa komen di bawah.

Share:

0 comments:

Posting Komentar