Selepas melahap empat bungkus nasi kucing plus sambal teri dan tempe goreng. Kami berbincang-bincang. Sembari memanaskan teh manis dan membersihkan piring, ibu itu berpesan.
"Dek, yang semangat ya belajarnya. Biar jadi orang sukses, bisa nyenengke orang tua", saut ibu itu.
"Nggih, Bu. Aamiin. Mohon doanya".
Ibu itu menambahkan,
"Iya ibu doakan. Yang penting, hidup itu yang lurus-lurus saja lah, dek. Ngga usah neko-neko ikut-ikutan yang ngga bener. Kalau pikirannya lurus, hatinya lurus, perkataannya lurus, perbuatannya lurus, nanti hidup ini Allah yang urus, Insya Allah, ndak usah khawatir".
Kami mengangguk. Mata kami mulai memandang satu sama lain. Walau sepertinya, masing-masing tengah melihat ke dalam dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kami sampai di ujung penantian---pulang. Sambil membawa sebungkus pesan berharga tentunya.
0 comments:
Posting Komentar