Bercampur tanah, ia berteduh
Riuh rindang pepohonan
Damai.. nikmat kian dipandang
Sayup-sayup nyanyian burung
Memudarkan pilu
Seperti embun memeluk dahan
Ia berkisah dukanya perlahan
Menggenggam sepi, di keramaian
Seseorang dengan lukanya
Tak kunjung ia keringnya
Seperti daun yang t'lah lelah
Menunduk, mengayunkan jerih
Menggugurkan benih, kian menjernih
Hati yang sempit, jauh dari Tuhannya
Demikian bukan?
Orang-orang berlalu lalang
Seseorang menangis malang
Menanti jawaban atas dirinya
Terus menerus, tiada terputus
Seorang datang, seorang pergi
Seorang pulang, seorang kembali
Biar sajalah, hidup berjalan semestinya!
Sebab kau ini hanyalah air
Terjatuh dari tempat yang tinggi
Lalu mengalir ke penampungan
Penampungan yang mana?
Bukankah engkau mengetahuinya!
Toh, kita semua sama saja
Ujungnya naik ke ufuk jua
Terbang..
Mengitari ayunan sepi
Mengharap belas Hyang Widi
Bukankah ketika langit menangis
Seketika bumi tanamkan kembang melatinya?
Bukankah ketika bayi menangis
Pertanda ibu 'kan lekas menyusuinya?
Menangislah!
Usahlah engkau malu-malu!
Sebab, menangis pula Kekasihku
Biarkan saja..
Seikat bunga bertunas
Disekitar garis bibirmu
Menjelma hati yang lapang
Sejuk jikalau ia dipandang
Tapi, jangan coba engkau resapi
Dalam-dalam ucapku ini
Sebab khawatirnya,
Makin tenggelam engkau akhirnya!
Jogja, 21 April 2022
Love it!
BalasHapusLhoh baru di post :"
BalasHapusSogehh🔥
BalasHapus