06 November, 2021

Opini - Kekosongan

Pernah ngga sih kamu merasa galau dengan masa depanmu? Kamu galau sama kariermu, jodohmu, prestasimu, keluargamu nanti dan segala hal yang menjadi mimpi-mimpimu? Atau mungkin, kamu galau sama hal-hal yang sebenarnya ngga terlalu esensial buat hidupmu, seperti popularitas misalnya, kehormatan dan lain sebagainya. Tetapi, setelah kamu bisa nih dapetin itu semua, atau beberapanya, kamu justru merasa kosong, kamu merasa biasa-biasa aja, seolah-olah itu semua ngga ada nilainya buat kamu? Nah, itu keadaan yang saat ini saya pikir sering kita rasakan.

Di salah satu podcast, saya menemukan sebuah analogi yang unik. Nilai kehidupan kita diumpamakan seperti kombinasi bilangan biner. Kita diminta mengumpamakan sesuatu yang akan usang dengan angka 0 dan sesuatu yang tidak akan usang dengan angka 1. Misalnya angka 0 kita isi oleh hal-hal yang kita galaukan tadi; seperti pekerjaan, pasangan, sahabat, kekayaan, mimpi-mimpi dan sebagainya. Sedangkan angka 1 harus kita isi dengan sesuatu yang entitasnya selalu eksis sejak awal sampai akhirnya, bahkan sebelum kata awal dan akhir itu ada. Tentu kita tahu, siapa lagi kalau bukan Allah Tuhan Semesta Alam.

Di sini, saya mengambil contoh misalnya saya berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan saya, maka saya mendapatkan nilai 0. Kemudian saya juga berhasil mendapatkan pasangan yang saya idam-idamkan, maka nilai saya menjadi 00. Kemudian saya juga berhasil mendapatkan kekayaan, jabatan, kehormatan dan popularitas, maka nilai saya menjadi 000000. Nah, kita tahu dengan jelas bukan kalau nilai itu jumlahnya terlihat sangat banyak. Padahal, esensinya nilai itu hanyalah nol alias kosong, ngga ada nilainya. Coba, seandainya saya libatkan Allah di situ dan saya letakkan Allah di paling depan, maka nilainya akan sangat jaaauh berbeda. Yang semula hanya ada 6 digit angka 0, ketika kita tambah nilai 1 di depannya, maka nilainya berubah jadi 1.000.000. Jauh banget kan?

Dari hal-hal yang paling kecil sekalipun, macam olahraga, kumpul bareng teman, ngerjain tugas kuliah, bahkan dari bangun tidur sampai tidur lagi, kalau kita ngga taruh tuh nilai 1 di awal, maka ujung-ujungnya akan kosong juga, ngga ada nilainya. Terus gimana kalau kita tambahkan nilai 1 di akhir alias kita letakkan Allah di paling akhir? Ya, kita hanya dapat nilai 1, nilai 0 yang seabrek itu jadi tidak ada artinya, sedikitpun ngga memberikan tambahan nilai dalam kehidupan kita.

Dari situ, saya mengajak dan mengingatkan diri saya sendiri untuk mentashih niat kita dan memenuhi apa maunya Allah. Kita diminta belajar ya kita belajar. Kita diminta bekerja ya kita bekerja. Kita diminta berbuat baik ya kita berbuat baik. Kita diminta menikah ya kita menikah :3. Tapi jangan sampai kita tidak melibatkan Allah. Letakkan Allah di awal dan jadikan Dia satu-satunya sebab dan alasan kita dalam melakukan sesuatu. Jika itu kita lakukan, maka saya yakin capaian itu akan terasa manis dan menjadi sangat bernilai di dalam kehidupan ini. Ngga ada lagi urusan sama galau-galauan.

Kata guru-guru saya, Allah itu ibarat matahari sedangkan dunia ibarat bayangannya. Jika kita memilih mengejar bayangan, maka bayangan itu tidak akan mampu kita kejar dan justru kita akan semakin menjauh dari matahari. Sebaliknya, jika kita mengejar matahari, maka kita akan semakin dekat dengan matahari dan bayangan itu justru akan berbalik mengikuti kita. Senikmat-nikmatnya kenikmatan di dunia, tetap saja ia hanyalah bayangan dari kenikmatan di akhirat. Begitu juga seberat-beratnya azab di dunia, tetap saja ia hanyalah bayangan dari azab di akhirat.

Ucapan yang selalu kita baca minimal 11 kali setiap salat, Allahu Akbar, sepertinya masih belum benar-benar kita hayati dengan baik. Masih banyak yang lebih akbar di hati kita daripada Allah. Sedangkan dalam Surah al-Ankabut, Allah menyebutkan bahwa perumpamaan orang-orang yang mengambil sandaran selain Dia adalah seperti laba-laba yang sedang membuat rumah. Padahal kita semua tahu, selemah-lemahnya rumah ialah rumahnya laba-laba.

Tapi ngomong-ngomong, memangnya kenapa sih Allah memperingatkan kita untuk tidak bersandar kepada selainNya? Jawabannya kurang lebih karena Dia Maha Pencemburu. Dia ngga suka kalau kita bermesraan sama yang lain. Padahal dia yang menciptakan kita, dia yang memberikan kita rezeki, yang memberikan kita ilmu hingga kita menjadi seperti ini. Ehh, kitanya malah sok asik sama yang lain. Kan ngga GG.

Terkahir, saya sangat suka dengan prinsip hidup salah satu kyai favorit saya, Gus Baha. Filosofi hidup yang menjauhkan kita dari kegalauan masa lalu ataupun yang akan datang. "Hidup ngga usah dibuat sulit, dibuat ruwet. Asal tidak maksiat, dapat menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi banyak orang serta tidak mengusik kehidupan orang lain, itu sudah cukup".

Share:

4 komentar: